Pagi itu saya berangkat mengantar dua kerucil ke sekolah dengan waktu yang sudah mepet. Rasanya semua berjalan setengah berlari. Ketika akhirnya mesin mobil menyala, jarum jam sudah mendekati angka tujuh.
Jalanan Subang pagi itu mulai padat, tapi masih cukup ramah untuk dikejar waktu. Saya melaju sedikit terburu, berharap bisa menembus beberapa persimpangan sebelum lampu merah menghambat langkah. Rupanya, di jalan sempit harus berpapasan dengan mobil lain sehingga membuat harus mengalah mencari ruang kosong. Waktu semakin sempit.
Sampai saya tiba di perempatan itu, lokasi yang sebenarnya sudah beberapa hari diperbaiki. Ada pengecoran, jalur menyempit, dan arus kendaraan dibuat bergantian. Polisi bertugas di tengah-tengah, mengatur kendaraan dengan gerakan tangan yang mantap di sela hiruk pikuk pagi.
Ketika lampu hijau menyala, antrean mulai bergerak. Motor di depan saya berjalan pelan, menyesuaikan jalur sempit yang hanya tersisa satu lajur. Saya ikut maju, lebih fokus pada celah di depan daripada situasi sekitar. Dalam bayangan saya, lampu itu masih aman.
Tapi rupanya tidak.
Begitu saya hendak keluar dari lajur sempit itu, saya fokus melihat ke arah belokan, dan luput melihat ke depan. Rupanya motor itu sudah berhenti. Dan sebelum sempat mengerem penuh, saya merasakan sesuatu menyentuh bumper depan. Tidak keras, namun cukup kuat untuk membuat sosok itu terjatuh ke samping. Itu adalah Pak Polisi.
Refleks, saya langsung menginjak rem dan turun dari mobil. Jantung terasa seperti meloncat ke tenggorokan. Polisi yang mengatur lalu lintas segera menghampiri dan memberi aba-aba tegas, “Pak, menepi dulu. Jangan berhenti di tengah. Nanti macet semua.”
Saya hanya bisa mengangguk, menepikan mobil sembari terus menoleh ke arah Pak Polisi yang jatuh tadi. Beliau sudah berdiri kembali dan terlihat berjalan pelan ke arah seberang, menunggu saya. Tidak terlihat marah, tapi jelas ada rasa tidak nyaman di wajahnya.
Setelah kendaraan saya benar-benar menepi, saya berjalan mendekatinya. Langkah saya terasa berat, seperti ada rasa bersalah yang menempel di telapak kaki.
“Pak… saya minta maaf. Saya benar-benar tidak lihat lampu sudah merah,” kata saya pelan.
Pak Polisi itu menatap saya, tangannya sesekali memegangi kaki yang mungkin terluka akibat jatuh. Tapi suaranya tetap tenang, meski tegas.
“Bapak harus lebih hati-hati. Saya nggak apa-apa, cuma kaget. Ini jalannya sempit, banyak yang terburu-buru. Kalau kena orang lain? Bisa bahaya. Saya kan sudah berhenti juga, tapi ditabrak sama Bapak.”
Saya mengangguk. “Iya, Pak. Saya salah. Saya terburu-buru sehingga kurang berhati-hati. Terima kasih sudah mengingatkan.”
Beliau mengibaskan debu di lutut celananya, memeriksa sejenak apakah ada luka, lalu berkata, “Sudah, Pak. Lain kali lihat lampu. Pelan saja. Jaga keselamatan bersama.”
Ketika saya tawari untuk mengganti biaya untuk bagian motornya yang mungkin rusak sedikit, tapi tidak mau. Percakapan itu singkat, tapi maknanya panjang. Ada rasa lega karena tidak terjadi hal yang lebih buruk. Dan ada rasa malu karena kelengahan kecil saya membuat orang lain jatuh.
Setelah urusan selesai, saya kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan. Tanpa terburu-buru. Tanpa keinginan “mengejar waktu” seperti sebelumnya. Seolah momen itu memaksa saya kembali ke ritme yang lebih wajar, lebih manusiawi.
Anak-anak tetap sampai di sekolah, meski sedikit terlambat. Anak-anak lain sudah berbaris rapi untuk melaksanakan upacara. Tapi pagi itu mengajarkan satu hal yang terasa menancap kuat:
Bahwa kadang, hidup tidak memberi peringatan lewat suara besar, melainkan lewat sedikit senggolan yang membuat kita diam sejenak dan menundukkan kepala.
Dan sejak pagi itu, saya lebih menghargai hal-hal kecil yang sering kita anggap sepele: kehati-hatian, kesadaran akan manajemen waktu sehingga tidak perlu kita kejar dengan panik.