Pernah nggak, dalam sebuah rapat atau saat diminta membuat konsep, tiba-tiba kepala terasa kosong seperti dompet di tanggal tua? Padahal semua orang menunggu satu hal: ide.
Saya pun sering mengalami itu.

Dari menyiapkan event perusahaan, merancang komunikasi, membuat program SDM, sampai menulis. Ada hari ide mengalir deras seperti hujan. Ada pula hari ia sulit muncul, seperti menunggu ojek online saat hujan turun.

Sampai akhirnya saya tersadar:
ide itu bukan untuk ditunggu—ide itu harus dijemput.

Dan sering kali, ia tidak muncul di ruang rapat atau di depan laptop. Ia muncul saat perjalanan rumah – kantor atau sebaliknya, saat menyapu halaman di waktu libur, ketika ngopi, atau ketika ngobrol santai dengan rekan kerja. Ide lahir ketika pikiran longgar, bukan ketika dipaksa.

1. Kreativitas Sering Muncul Saat Kita Berani Menggeser Sudut Pandang
Dalam banyak pengalaman menyiapkan program, saya selalu mulai dengan bertanya:
“Apa yang belum pernah kita lakukan?”

Bukan untuk tampil berbeda-beda tipis, tapi untuk menyentuh emosi yang ingin dirasakan karyawan atau audiens. Dari situ saya belajar bahwa kreativitas bukan semata kemampuan teknis, tetapi keberanian melihat dari arah lain.

2. Ide Butuh Ruang untuk Mampir
Yang saya sadari dari bekerja dan memimpin tim adalah: ide tidak betah di ruang yang “ramai”, bukan fisiknya, tapi pikirannya. Maka saya sering mencoba menyediakan ruang:
• Beberapa menit hening sebelum meeting
• Tempat mencatat ide sekecil apa pun
• Ruang aman untuk salah
• Ruang mendengar pendapat sederhana tanpa menghakimi

Anehnya, ide-ide terbaik justru sering muncul dari obrolan paling ringan di ruang yang biasa saja.

3. Kreativitas Itu Kebiasaan, Bukan Bawaan Lahir
Selama bertahun-tahun di dunia PR, SDM dan organisasi profesi, saya melihat pola yang sama: orang kreatif bukan yang paling pintar, bukan yang paling senior, bukan yang paling banyak teori, tapi yang paling sering mencoba. Setiap konsep yang dibangun, hampir selalu melalui proses bongkar–pasang. Ubah, ulang, perbaiki.

Seperti membuat pantun:
kalau kebanyakan mikir, justru tidak keluar.
Tapi kalau dibiasakan, ia mengalir begitu saja.

4. Menjemput Ide Butuh Ritual Sederhana
Bagi saya, ritual itu adalah… menyeruput kopi panas. “Seruput Kopi Panas” bukan sekadar tagline di media sosial. Itu momen refleksi kecil yang membuat pikiran lebih tenang dan lebih siap bekerja.

Kopi adalah pintu masuknya. Pengalaman, intuisi, dan imajinasi adalah ruang tamunya. Dan di antara mereka, ide pelan-pelan tumbuh.

5. Ide Tanpa Aksi Hanya Jadi Angin Lewat
Dari pengalaman menjalankan program dan proyek, saya belajar: ide sehebat apa pun tidak berarti kalau tidak dikerjakan. Kadang hasilnya tidak sempurna. Kadang meleset dari rencana. Tapi selalu lebih baik daripada hanya tersimpan di kepala.

Ide yang dijalankan sedikit demi sedikit jauh lebih hidup daripada ide yang dirapikan berulang-ulang tetapi tidak pernah diberi kesempatan.

Pada akhirnya, semua orang bisa kreatif asal mau melatih diri menangkap hal-hal sederhana.
Caranya?
• Longgarkan pikiran
• Rawat rasa penasaran
• Berani melihat dari sisi berbeda
• Biasakan mencatat
• Ajak orang lain ikut terlibat
• Dan tentu saja… seruput kopi panas

Karena sering kali, ide terbaik tidak lahir dari ruangan besar dengan proyektor mewah.
Ia lahir dari hati yang tenang, pikiran yang jernih, dan keberanian memandang dunia dengan cara yang sedikit berbeda.

Salam seruput kopi panas.