Pagi ini, seperti biasa, saya menggandeng dua krucils menuju masjid untuk salat Subuh berjamaah. Seperti dugaan, drama membangunkan dari dunia mimpi tidak pernah absen, kadang rayuan, kadang gendongan, kadang ancaman halus yang berbalut kasih sayang. Tapi ada kepuasan tersendiri saat langkah kecil mereka akhirnya menyusuri jalan gelap menuju rumah Allah.

Usai salat, ketika kami berjalan pulang, tiba-tiba salah satu anak berseru, “Bi!” sambil menunjuk langit. Saya mendongak, dan seketika tertegun. Langit Subuh itu seperti kanvas yang baru disapu cahaya pertama: awan tipis bertingkat memantulkan semburat lembut, sementara bintang-bintang bertaburan seperti kismis yang ditabur rapi di atas roti hangat. Hening, indah, dan menggenang.

Kami lalu terlibat diskusi kecil tentang mana yang bintang, mana yang planet? Sambil menunjuk titik cahaya yang paling stabil, saya jelaskan bahwa planet biasanya terlihat lebih terang dan tidak berkelap-kelip, sedangkan bintang berkelap-kelip karena cahayanya terpecah oleh atmosfer. Dari percakapan sesederhana itu, tersimpan ibroh yang tidak sederhana.

1. Pembiasaan ritual Subuh untuk anak-anak
Tidak mudah, apalagi melawan selimut dan mimpi yang manis. Tapi justru pembiasaan sejak dini itulah yang paling membekas: disiplin, ketenangan, dan kebiasaan menghadapkan wajah kepada Allah di awal hari. Kita tidak sedang menuntut kesempurnaan, hanya mengajak mereka berjalan, pelan, tapi pasti.

2. Belajar dari perjalanan kecil
Subuh bisa jadi kelas terbaik. Menatap langit, membaca tanda-tanda, mengidentifikasi benda langit, semua menjadi jembatan untuk menanamkan rasa ingin tahu. Ilmu pengetahuan itu hadir lewat percakapan sederhana antara ayah dan anak, bukan hanya dari buku.

3. Udara Subuh yang menyehatkan
Kami menarik napas panjang. Udara Subuh punya kadar oksigen yang lebih tinggi dan lebih bersih karena aktivitas kendaraan belum ramai. Bukan hanya menyehatkan paru-paru, tapi juga menenangkan sistem saraf. Rasanya seperti tubuh mendapat tombol reset alami.

4. Ruang tafakur dan syukur
Menatap langit yang bertabur cahaya membuat kami merasa kecil, tapi dengan cara yang indah. Semua benda langit itu berjalan dalam aturan yang sempurna. Hadir di tengah keheningan itu, hati spontan berbisik:

“Rabbanaa maa khalaqta haadzaa bathilan…”
“Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia.”

Kalimat yang membuat langkah lebih rendah hati, tetapi jiwa lebih terangkat.

Pagi itu akhirnya mengantar kami kembali ke rumah dengan hati yang lebih lapang. Anak-anak bersiap sekolah, Abi berangkat bekerja, dan Ummi melanjutkan aktivitas sosialnya. Semua kembali ke rutinitas, tetapi kini membawa satu kesadaran baru: bahwa pagi yang baik tidak tercipta begitu saja, ia dihadirkan oleh momen-momen kecil yang kita syukuri, dan keputusan sederhana yang kita perjuangkan.

Semoga Subuh berikutnya memberi cerita lain, dan hidup kita pelan-pelan menjadi lebih terang, seperti langit yang kami saksikan pagi itu.

Salam Seruput Kopi Panas.