Jumat petang, selepas menutup beberapa pertemuan JULI (Jumat Keliling) di Jakarta, saya kembali ke Kota Bahan Peledak, Subang. Cuaca mendung, awan hitam bergelayut manja, dan akhirnya tetesan hujan turun membasahi bumi. Di tengah perjalanan, WhatsApp dari istri muncul di layar. “Bi, ummi baru pulang dari luar ya. Teman nasi belum ada nih.” Pesan singkat yang langsung membuat saya tersenyum. Dalam hati, saya merasa ini adalah kode: ini tanda bahwa perjalanan pulang saya masih punya satu misi kecil.
Kami berdiskusi cepat. Pilihan jatuh pada satu menu yang hampir tidak pernah gagal menyatukan selera seluruh anggota keluarga: sate ayam. Sate langganan kami, yang berada dekat Waterboom, langsung terlintas di benak.
Begitu tiba, suasana sore menjelang maghrib terasa begitu khas, lampu-lampu kendaraan memantul di genangan kecil, wangi arang terbakar bercampur aroma bumbu kacang, dan suara kipas bambu yang mengayun ritmis dari panggangan.
Di sana, seperti biasa, saya melihat pasangan sepuh penjual sate itu. Sang kakek berdiri di depan panggangan, tangan kurusnya cekatan mengipasi arang, mengatur panas, memastikan sate matang merata. Sementara sang nenek berdiri disebelahnya menyiapkan tusukan, menakar bumbu, membungkus dengan tertib, seolah sudah ribuan kali dilakukan. Mereka bekerja berdua, saling melengkapi tanpa banyak kata. Kolaborasi yang tidak butuh training, tidak butuh SOP, tapi penuh ketulusan.
Ada semacam romantisme yang sulit dijelaskan. Dalam keriput tangan mereka, ada kisah panjang. Dalam setiap tusukan sate yang disusun, ada keteguhan. Dan di balik asap panggangan, ada cinta yang tetap menyala.
Namun pengalaman sore itu tidak berhenti di situ. Tepat di sebelah lapak mereka, ada warung nasi milik seorang ibu paruh baya. Sambil mencuci piring, ia sibuk sekali menggerutu. Sendiri, tanpa lawan bicara. Rupanya ia kesal karena sebuah franchise ayam yang cukup terkenal yang berada tak jauh dari sana buka sejak dini hari hingga malam. Tadi ada pembeli yang sempat mampir ke kiosnya, tapi batal membeli dan justru memilih ke franchise itu.
“Aduh, rezeki saya jadi hilang. Gara-gara mereka buka dari pagi banget sampai malam,” begitu kurang lebih keluhannya.
Saya hanya tersenyum kecil. Saya memahami bahwa setiap pedagang punya tekanan, punya rasa lelah, punya masa di mana hati sedang tidak lapang. Namun dari kejadian yang sederhana itu, justru ada tiga ibrah yang kuat, yang terasa mengendap dalam pikiran saya sepanjang perjalanan pulang.
1. Traktir Pasangan Adalah Ibadah yang Menghangatkan Hati
Ketika saya memesan sate sore itu, saya merasakan ketenangan aneh. Mungkin karena ada kesadaran bahwa memberi makan keluarga adalah bentuk sedekah paling utama. Dalam Islam, nafkah yang diberikan kepada istri dan anak-anak bukan sekadar kewajiban, tetapi amal shalih yang pahalanya melampaui sedekah kepada orang lain.
Kadang kita mengira kebaikan itu harus berupa hal besar. Padahal, membeli sate menjelang maghrib sekalipun bisa bermakna ibadah, jika diniatkan sebagai bagian dari cinta dan tanggung jawab.
Ada kebahagiaan sederhana ketika membawa pulang makanan dan melihat keluarga menikmatinya. Ada rasa syukur ketika sadar: Allah memberikan rezeki, agar kita bisa membahagiakan orang terdekat terlebih dahulu.
2. Menggerutu Membuat Rezeki Terasa Semakin Menjauh
Keluhan ibu penjual nasi di sebelah tadi membuat saya berpikir panjang. Boleh jadi ia sedang dalam tekanan, dagangan sepi, persaingan ketat, cuaca tak bersahabat. Namun menggerutu membuat hati tidak lapang, membuat rezeki yang sedikit terasa semakin jauh.
Padahal, takdir rezeki tidak pernah salah alamat. Setiap orang sudah dijatah oleh Allah, dan siapa pun tidak bisa mengambil jatah orang lain. Bisa jadi, saat pembeli membatalkan niat, bukan rezeki hilang, tapi Allah sedang mengalihkan rezeki dalam bentuk lain, pelanggan baru esok hari, pesanan yang tidak disangka, atau keberkahan dari arah yang tidak terlihat.
Mengeluh tidak memperluas rezeki. Yang memperluas adalah syukur, ikhtiar, dan hati yang percaya bahwa Allah Maha Mengatur.
3. Ketekunan Pasangan Sepuh: Pelajaran Tentang Harga Diri dan Cinta
Melihat pasangan penjual sate itu bekerja di bawah gerimis sore, saya merasa seperti sedang menyaksikan pelajaran hidup. Di usia senja, mereka tidak meminta belas kasihan. Mereka tidak menadahkan tangan. Mereka masih memilih bekerja, menjaga martabat, dan menghidupi diri dengan keringat sendiri.
Ada sesuatu yang indah ketika melihat keduanya saling mengisi. Si kakek sibuk dengan bara api, si nenek sibuk dengan bumbu. Mereka tidak mengeluh meskipun usia mereka tidak lagi muda. Tidak ada drama. Tidak ada keluhan. Yang mereka bawa hanyalah ketekunan, kesabaran, dan cinta yang diterjemahkan dalam kerja nyata.
Kadang justru dari orang-orang sederhana seperti merekalah kita belajar makna perjuangan.
Sore itu saya pulang membawa sate dalam bungkusan, diiringi hujan yang makin deras. Tapi lebih dari itu, saya membawa pulang tiga pelajaran kehidupan yang menghangatkan hati, seperti seruput kopi panas di pagi dingin.
Pelajaran bahwa cinta bisa hadir dalam bentuk yang sangat sederhana.
Pelajaran bahwa rezeki tak perlu dikhawatirkan secara berlebihan.
Pelajaran bahwa ketekunan dan martabat lebih tinggi nilainya daripada sekadar keluhan.
Salam Seruput Kopi Panas.