Ada satu rutinitas yang selalu saya lakukan hampir setiap akhir pekan: mengantar krucils les renang. Bukan kegiatan yang mewah, bukan pula sesuatu yang dramatis. Tapi setiap kali tiba di tepi kolam, ada rasa tenang yang mengalir. Aroma kaporit, suara percikan air, dan tentunya saya ditemani secangkir hot americano sambil duduk mencari wangsit.

Sebelum akhirnya menemukan renang, kami sudah mencoba beberapa jenis olahraga. Sepakbola pernah dicoba: ramai, seru, penuh teriakan, tapi rupanya tidak cocok dengan karakter anak saya yang lebih senang suasana tenang.

Basket pun dicoba, tapi intensitas kelompoknya cukup membuat mereka cepat lelah secara sosial. Saya sempat bertanya dalam hati: “Apakah saya memaksakan mereka pada bentuk olahraga yang saya sukai, bukan yang mereka butuhkan?”

Dari proses mencoba-coba itu, saya belajar memahami karakter mereka. Anak-anak ini butuh olahraga, betul. Tapi bukan sekadar olahraga. Mereka butuh aktivitas fisik yang tidak membuat mereka tertekan, yang tidak memaksa mereka tampil di keramaian, yang memberi ruang pribadi sekaligus memacu keberanian secara bertahap. Hingga suatu hari, kami mencoba les renang… dan di situlah seperti menemukan kepingan puzzle yang hilang.

Renang berbeda dengan olahraga lain. Ada kedamaian ketika berada di air. Dunia terasa sunyi sejenak. Anak-anak tidak perlu berteriak, tidak berebut bola, tidak harus melawan banyak lawan. Mereka hanya perlu fokus pada diri sendiri, pada udara yang masuk dan keluar, pada gerakan tangan dan kaki, pada keseimbangan tubuh yang perlahan mereka kuasai. Saya melihat sendiri bagaimana wajah mereka berubah, dari kikuk menjadi penasaran, dari takut menjadi tersenyum, dari mencoba menjadi menikmati.

Sebagai orang tua, saya tidak menuntut mereka menjadi atlet atau masuk ke jalur prestasi. Saya tahu, tidak semua harus dicetak untuk berlaga di kompetisi. Yang penting, mereka memiliki satu olahraga yang mereka sukai, yang mereka jalani dengan konsisten, dan yang bisa menjadi bekal kesehatan jangka panjang.

Lagipula, renang bukan olahraga sembarangan. Rasulullah pun menganjurkan renang, memanah, dan berkuda—yang bukan hanya melatih fisik, tapi juga mental, kepercayaan diri, dan ketahanan diri. Renang mengajarkan ketenangan dalam tekanan. Mengajarkan bahwa tubuh bisa tetap mengapung meski dikelilingi kedalaman. Mengajarkan bahwa keberanian tidak perlu berteriak; cukup bertahan, cukup bergerak, cukup mencoba lagi.

Terus, apakah saya bisa berenang juga? Tidak terlalu bisa, jujur saja. Gaya saya ya standar: gaya bebas… tapi sopan. Kadang pakai gaya batu, gaya yang tenang, tidak ke mana-mana, tapi juga tidak tenggelam. Yang penting tetap bernapas, tetap bergerak, dan tetap menikmati waktu.

Rutinitas mengantar les renang ini secara tidak sadar membawa saya pada banyak renungan. Tentang pentingnya memahami karakter anak. Tentang menyesuaikan ekspektasi sebagai orang tua. Tentang membiarkan anak tumbuh dengan ritme mereka sendiri. Tentang menerima bahwa perjalanan kecil seperti ini, yang kadang dianggap sepele, ternyata bisa menguatkan hubungan keluarga dan membentuk disiplin yang tidak terasa memaksa.

Pada akhirnya, renang bukan hanya soal gaya dada, gaya punggung, atau gaya bebas. Tapi tentang gaya hidup: bergerak dengan tenang, tetap fokus, melawan ketakutan, dan belajar mengambang ketika hidup terasa terlalu dalam.

Beberapa Pembelajaran dari Tepi Kolam
1. Satu olahraga sudah cukup, asal konsisten.
Daripada mencoba banyak tapi tidak ada yang bertahan, lebih baik satu yang disukai dan ditekuninya.

2. Kenali karakter anak, bukan sekadar mengikuti tren.
Setiap anak unik. Ada yang cocok olahraga tim, ada yang lebih nyaman olahraga individual seperti renang.

3. Renang adalah bekal hidup.
Ini kemampuan survival, bukan sekadar olahraga. Air adalah sahabat sekaligus guru.

4. Bangun rutinitas tanpa tekanan.
Biarkan anak menikmati proses. Semakin fun, semakin besar peluang mereka bertahan lama.

5. Jangan buru-buru menetapkan target.
Prestasi itu bonus. Tujuan pertama adalah kesehatan, kedisiplinan, dan kepercayaan diri.

6. Orang tua juga boleh belajar, meski hanya gaya batu.
Anak akan meniru semangat, bukan kemampuan teknisnya. Hadir bersama mereka sudah setengah kemenangan.

7. Jadikan renang momen bonding.
Kadang, kebahagiaan hadir bukan dari tujuan besar, tapi dari percikan air dan tawa di tepi kolam.

Pada akhirnya, renang mengajarkan kita satu hal sederhana: hidup tidak selalu harus cepat, yang penting tetap bergerak. Anak-anak mungkin belum jago, saya pun masih setia dengan gaya batu dan gaya bebas tapi sopan, tapi prosesnya membuat kami terus belajar tentang keberanian, ketenangan, dan konsistensi. Karena dalam hidup, seperti di air, yang menang bukan yang paling hebat, tapi yang mau terus mencoba tanpa tenggelam oleh keraguan.

Salam seruput kopi panas.