Pagi ini saya kembali melewati MBZ untuk kesekian kalinya. Sinar matahari baru saja menembus garis timur, memantul pada pagar beton abu-abu yang membentang lurus jauh ke depan. Ada sesuatu yang selalu membuat perjalanan di sini terasa berbeda: lebih tinggi, lebih lapang, dan entah mengapa menjadi lebih reflektif.

Setiap kali roda mobil berputar di atas MBZ, saya selalu teringat satu peristiwa yang tidak pernah benar-benar hilang dari ingatan. Bertahun-tahun lalu, sebelum tol layang ini lahir, saya pernah terjebak kemacetan parah di ruas bawah Tol Jakarta–Cikampek. Hari itu saya sedang mengejar pesawat ke Pekanbaru. Detik bergerak tanpa ampun, sementara kendaraan di depan hanya bergeser sejengkal demi sejengkal.

Hingga akhirnya tiba di Bandara Soeta, saya turun dari mobil, berjalan cepat sambil menggenggam koper, dan tepat ketika saya sampai di gerbang keberangkatan, pesawat yang seharusnya saya tumpangi mengangkasa pergi.

Momen yang getir, tapi juga lucu bila diingat kembali. Padahal saya sudah melebihkan waktu yang cukup banyak untuk memitigasi potensi gangguan di perjalanan. Namun macet efek pembangunan tol layang menggila. Saat itulah, saya membatin: “Kapan ya tol ini cepat selesai?”

Hari ini, saya berada di atas jawabannya.

Jalan Layang MBZ, dulunya dikenal sebagai Tol Jakarta–Cikampek II (Elevated) adalah jawaban atas kemacetan kronis yang menghantui wilayah megapolitan. Dengan panjang hampir 37 kilometer, MBZ menjadi jalan tol layang terpanjang yang pernah dibangun di Indonesia, membentang dari Cikunir hingga Karawang Barat.

Ia berdiri seperti sabuk raksasa di udara, memisahkan arus kendaraan jarak jauh dari kendaraan komuter harian. Sebuah inovasi yang waktu itu terasa futuristik: jalan di atas jalan, gagasan yang akhirnya diwujudkan melalui investasi triliunan rupiah dan melibatkan kontraktor besar seperti Waskita Karya dan ACSET.

Pada 12 April 2021, pemerintah meresmikan nama baru: Jalan Layang Sheikh Mohammed bin Zayed (MBZ), sebuah penghormatan terhadap kedekatan Indonesia dengan Uni Emirat Arab. Sejak saat itu, nama MBZ menjadi ikon perjalanan darat lintas Jawa Barat.

Namun perjalanannya tidak selalu mulus. Ada kritik tentang kontur yang bergelombang, ada isu konstruksi, bahkan pembatasan kendaraan berat karena kekhawatiran beban. Tapi di balik itu semua, MBZ tetap menjadi penyelamat ribuan pengendara yang ingin terhindar dari “neraka kemacetan” Japek bawah, terutama pada musim mudik.

Melintas MBZ di pagi hari seperti melaju di atas panggung panjang. Kota Bekasi terlihat lebih kecil dari ketinggian ini; deret gedung, pabrik, dan jalur kereta berubah menjadi panorama industrial yang memikat. Sesekali, di sisi kiri, terlihat lintasan jalur Kereta Cepat Whoosh. Jika beruntung, kita bisa melihat kereta putih itu melintas cepat, seperti kilatan modernitas yang menemani perjalanan kita dengan segala cerita kontroversinya.

Angin pagi, meski tak benar-benar terasa dari balik kaca mobil, memberi kesan seolah perjalanan lebih ringan. Tak ada perempatan, tak ada truk besar, tak ada lampu merah. Hanya aspal memanjang, pagar pengaman, dan langit yang seakan lebih dekat setengah meter dari biasanya.

Di titik-titik tertentu, saya bisa merasakan sedikit naik-turun pada permukaan jalan. Tidak terlalu mengganggu, tetapi cukup untuk mengingatkan bahwa MBZ dibangun di atas struktur panjang yang rumit, bahkan rumit untuk orang yang melihatnya dari kejauhan.

Meski MBZ menawarkan perjalanan lebih cepat dan lebih “tenang”, ada beberapa hal yang patut diperhatikan. Ibarat berada di jembatan langit, keselamatan tetap harus menjadi prioritas.

Hal yang perlu diperhatikan saat melintasi MBZ:

1. Perhatikan jenis kendaraan.
MBZ hanya untuk kendaraan golongan I dan II (mobil kecil & kendaraan ringan). Truk besar dilarang.

2. Patuh pada batas kecepatan.
Kontur jalan yang sedikit bergelombang membuat mengemudi terlalu cepat menjadi berbahaya.

3. Pastikan kendaraan prima.
Suspensi, ban, dan rem harus dalam kondisi baik karena MBZ minim bahu jalan untuk berhenti.

4. Waspada angin samping.
Karena posisinya tinggi, hembusan angin tertentu bisa terasa lebih kuat di area terbuka.

5. Nikmati pemandangan.
Bekasi, Cikarang, jalur kereta cepat, semua tampak berbeda dari ketinggian MBZ.

Setiap kali saya melintas MBZ, saya seperti mengulang dialog lama dengan diri sendiri, tentang perjalanan, tentang waktu, tentang infrastruktur, dan tentang bagaimana hidup perlahan berubah.

Dulu saya menatap pesawat terbang tanpa saya. Kini saya menatap masa depan sambil melaju di atas jalan layang yang dulu hanya menjadi harapan. Begitulah perjalanan: membawa kita maju, tapi selalu menyisakan kenangan yang membuat hari ini lebih bermakna.

Pagi ini, untuk kesekian kalinya, saya melewati MBZ. Tapi setiap kali, rasanya selalu seperti pertama kali.

Salam seruput kopi panas.