Pagi itu, udara di bukit sekitar Kumpay Jalan Cagak masih basah oleh embun. Tenda-tenda berdiri setengah malas. Di antara pepohonan itulah mata saya tertahan pada sebuah pohon yang tampak biasa saja, kecuali buah-buahnya. Bulat, kekuningan, menggantung, tenang, tapi justru di situlah ia mencuri perhatian. Ada rasa penasaran yang tiba-tiba muncul, tanpa sebab yang jelas.
Saya mendekat. Memegangnya sebentar. Aromanya samar, tidak menyengat. Bukan buah yang akrab dengan ingatan. Bukan pula buah yang sering hadir di obrolan sehari-hari. Pagi itu, pertanyaan lahir: buah apa ini? Saya bertanya pada teman sesama pekemping. Jawabannya beragam, ada yang menebak sawo, ada pula yang menggeleng tanpa kepastian.
Menjelang malam, saat dingin mulai menggigit dan cahaya hanya bergantung pada lampu, rasa penasaran itu kembali mengetuk. Kali ini saya tanya melalui “jalur lain”, bertanya pada teman yang tak kasatmata, tapi kini selalu siap sedia: AI. Dari potongan ciri, foto, dan deskripsi, jawaban itu akhirnya tiba. Tenang. Tegas. Meyakinkan. Itu adalah buah pala.
Fakta ini tervalidasi ketika saya memastikan melalui group WA yang berisi teman yang bertempat tinggal di sekitaran lokasi.
Pala. Sebuah nama yang selama ini terasa akrab di dapur, tapi jauh dari kesadaran akan pohonnya. Di bukit daerah Kumpay Jalan Cagak ini, pala berdiri diam, seolah tak peduli bahwa ratusan tahun lalu, buah inilah yang membuat bangsa-bangsa besar berlayar menyeberangi samudra. Pala pernah menjadi alasan perjanjian, pertukaran wilayah, bahkan pertumpahan darah. Dari Maluku, namanya menggema hingga Eropa. Dari pohon sederhana, lahir sejarah yang ikut mengubah arah dunia.
Menariknya, pala bukanlah tanaman yang lazim ditemui di kawasan ini. Jalan Cagak dan perbukitan sekitarnya bukan sentra pala seperti Maluku, tanah asal rempah legendaris itu. Iklimnya lebih sejuk, lahannya didominasi kebun campuran seperti kopi, cengkeh, alpukat, dan tanaman keras lainnya. Justru karena jarang itulah, pala di sini terasa istimewa, seperti sejarah kecil yang terselip diam-diam di lanskap Sunda.
Buah pala ternyata tidak sesederhana yang kita bayangkan. Ia bukan hanya biji yang kita kenal sebagai rempah. Daging buahnya bisa diolah menjadi manisan dan minuman. Bijinya menjadi komoditas bernilai tinggi. Fulinya, selaput merah yang membungkus biji menjadi rempah istimewa dengan aroma khas. Satu buah, tiga manfaat. Lengkap.
Rasa penasaran yang lahir pagi hari akhirnya terjawab. Bukan sekadar soal nama buah, tapi tentang cara alam mengajak kita belajar: pelan-pelan, dengan kehadiran, dengan rasa ingin tahu. Kemping kali ini bukan hanya soal bermalam di alam, tapi tentang pulang dengan pengetahuan dan rasa takzim yang baru.
Sekilas tentang Pala:
1. Asal: Rempah asli Indonesia, terutama dari Maluku
2. Bagian utama: daging buah, biji pala, dan fuli (bunga pala)
3. Nilai sejarah: pernah menjadi komoditas paling berharga di dunia
4. Pemanfaatan: bumbu masak, minuman, manisan, obat tradisional
5. Filosofi: tumbuh tenang, tak mencolok, tapi menyimpan nilai besar
Pagi menumbuhkan tanya. Malam menghadirkan jawab. Di antara keduanya, ada perjalanan kecil yang membuat kita kembali percaya: alam selalu punya cerita, asal kita mau berhenti sejenak dan mendengarkan.
Salam seruput kopi panas.