Hari ini, 17 Desember 2025, Hari Pantun Sedunia. Sebuah momentum yang tepat untuk kembali menyadari bahwa pantun bukan hanya warisan sastra, tetapi juga keterampilan komunikasi yang relevan dalam kehidupan dan pekerjaan sehari-hari. Di tengah dunia yang serba cepat dan langsung, pantun justru menawarkan cara menyampaikan pesan dengan lebih halus, beretika, dan berkesan.
Pantun bekerja bukan hanya pada level kata, tetapi juga pada cara manusia menerima informasi. Ada orang yang kuat secara visual, ada yang lebih mudah menangkap lewat bunyi dan irama, dan ada pula yang merespons lewat rasa dan emosi. Pantun, dengan rima dan maknanya, menjangkau ketiganya sekaligus. Ia membuat pesan lebih mudah diingat, lebih nyaman diterima, dan sering kali lebih efektif.
Dalam praktik profesional, pantun memiliki banyak fungsi nyata. Ia bisa menjadi pembuka yang mencairkan suasana, penutup yang menguatkan pesan, atau jembatan komunikasi dalam situasi yang sensitif. Karena itu, kemampuan berpantun bukan sekadar hobi, melainkan nilai tambah yang mendukung peran apa pun, baik sebagai karyawan, pemimpin, MC, moderator, atau sekadar anggota tim.
Saya mulai menggeluti pantun sejak cukup lama. Awalnya, pantun sering saya gunakan saat menjadi pembawa acara pernikahan sebagai cara sederhana untuk mencairkan suasana. Perjalanan itu kemudian semakin terasa ketika saya mulai aktif di Forum Humas BUMN pada tahun 2016. Sejak saat itu, saya terlibat sebagai pengurus selama tiga periode hingga saat ini. Dalam perjalanan tersebut, pantun kerap hadir dalam berbagai momentum, baik saat menjadi MC, moderator, maupun dewan juri lomba pantun. Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah ketika saya dipercaya menjadi palang pintu dalam pembukaan Porseni BUMN yang disaksikan langsung oleh Menteri BUMN RI.
Selain digunakan dalam komunikasi lisan, pantun juga saya tuangkan dalam bentuk tulisan melalui Pantun Seruput Kopi Panas yang dibagikan di berbagai WhatsApp Group dan media sosial. Hingga saat ini, pantun-pantun tersebut baru dibukukan dalam satu judul, sementara selebihnya masih tersebar dalam berbagai catatan dan ruang berbagi.
Agar pantun benar-benar bermanfaat dan bisa digunakan secara efektif, beberapa tips dan trik berikut dapat menjadi pegangan:
• Gunakan pantun untuk mencairkan suasana, terutama di awal rapat, forum, atau acara formal. Satu pantun ringan sering kali cukup untuk menurunkan ketegangan dan membuat audiens lebih terbuka.
• Jadikan pantun sebagai alat menyampaikan pesan, bukan sekadar hiburan. Pantun yang baik membawa isi: motivasi, ajakan, atau penegasan nilai, tanpa terasa menggurui.
• Sesuaikan pantun dengan konteks dan audiens. Pantun untuk forum kerja tentu berbeda dengan pantun untuk pertemanan. Ketepatan konteks membuat pantun terasa elegan, bukan berlebihan.
• Manfaatkan pantun sebagai ice breaking yang beretika, terutama saat menjadi MC, moderator, atau pembicara. Pantun membantu transisi antaragenda tanpa kehilangan fokus acara.
• Gunakan pantun dalam diplomasi dan relasi. Saat menyambut tamu, membuka percakapan, atau menyampaikan hal sensitif, pantun dapat menjadi jalan tengah yang aman dan hangat.
• Latih kepekaan berbahasa melalui pantun. Merangkai pantun melatih ketelitian memilih kata, menyusun logika, dan menjaga keseimbangan pesan, keterampilan yang sangat berguna dalam menulis dan berbicara.
• Mulai dari yang sederhana dan konsisten. Pantun tidak harus selalu indah atau panjang. Yang penting rutin, jujur, dan membawa energi positif.
Pada akhirnya, menguasai pantun bukan tentang ingin terlihat pandai bersastra, melainkan tentang memperkaya cara kita berkomunikasi. Pantun membantu pesan sampai tanpa melukai, menguatkan tanpa menggurui, dan menghibur tanpa kehilangan makna. Jika pantun mampu membuat pekerjaan terasa lebih cair, hubungan lebih hangat, dan hari-hari lebih bersemangat, maka di situlah nilai sejatinya.
Seperti kopi panas yang diseruput perlahan, pantun mengajarkan kita menikmati proses, merawat kata, dan menebarkan kehangatan dalam kerja, dalam pergaulan, dan dalam kehidupan sehari-hari.
Selamat Hari Pantun Sedunia. Salam Seruput Kopi Panas.