Ada masanya kita terlalu percaya diri dengan kata-kata sendiri. Di balik layar ponsel, kita sering merasa aman, bebas, dan seolah tak tersentuh. Entah itu saat menulis status, mengetik komentar, atau berbicara dalam video singkat yang dianggap sepele. Padahal, di era hari ini, kata: baik yang lahir dari ujung jempol maupun lisan, bisa dengan sangat cepat berubah menjadi perkara hukum yang serius.
Kasus yang belakangan mencuat mengenai Resbob, mahasiswa Universitas UWKS Surabaya, menjadi pengingat keras bagi kita semua. Dugaan ujaran kebencian yang menyinggung suku Sunda tersebut kini harus berujung pada proses hukum. Tulisan ini bukan hadir untuk menghakimi, bukan pula untuk memperpanjang kegaduhan yang sudah ada. Ini adalah ajakan untuk berhenti sejenak, melihat ke dalam, dan belajar.
Seringkali, semuanya berawal dari emosi sesaat. Ada keinginan meluapkan kekesalan tanpa jeda berpikir, entah itu lewat tulisan atau ucapan spontan. Namun, media sosial tidak pernah mengenal konteks emosi penggunanya; ia hanya mengenal rekam jejak. Sekali konten itu ditayangkan, ia akan berjalan sendiri. Sekali menjadi viral, ia nyaris mustahil untuk dihentikan.
Satu hal yang sering kita lupakan: lisan di depan kamera kini memiliki bobot yang setara dengan tulisan di ruang publik. Tidak ada lagi sekat antara “ngomong biasa” dengan “pernyataan terbuka”. Kamera ponsel telah mengubah setiap ucapan menjadi dokumen yang bisa ditonton ribuan orang, disalin, dipelintir, dan disimpan selamanya.
Ketika sebuah konten menyentuh wilayah sensitif seperti suku, agama, ras, dan identitas, dampaknya akan berlipat ganda. Ini bukan lagi sekadar soal etika, tapi sudah menyentuh ranah hukum yang kaku. Saat proses hukum sudah berjalan, penyesalan biasanya datang terlambat. Api sudah terlanjur membesar. Klarifikasi seringkali tak lagi cukup, dan permintaan maaf tidak selalu bisa memadamkan luka hati yang telah terlanjur dalam.
Pelajaran terpenting dari kasus ini adalah kita tidak harus mengalami pahitnya masalah sendiri untuk menjadi bijak. Kita bisa memilih untuk listen, mendengarkan dengan jernih apa yang terjadi, lalu learn, mengambil pelajaran agar tidak mengulang kesalahan yang sama. Belajar dari pengalaman orang lain adalah bentuk kecerdasan sosial yang sangat mahal nilainya di zaman ini.
Media sosial seharusnya menjadi ruang ekspresi yang bertanggung jawab, bukan sekadar tempat pelampiasan emosi. Ia adalah alat, dan seperti semua alat, ia bisa membangun atau merusak, tergantung siapa yang memegang dan bagaimana ia digunakan. Maka, agar kita tidak terjebak dalam lubang yang sama, ada beberapa pelajaran praktis yang patut kita pegang bersama:
• Tahan jempol dan lisan saat emosi: Marah, kecewa, atau kesal bukan waktu yang tepat untuk menulis atau berbicara di depan kamera.
• Ingat bahwa video adalah pernyataan publik: Apa yang diucapkan di depan kamera bukan lagi konsumsi pribadi, melainkan dokumen terbuka.
• Hindari ujaran yang menyentuh identitas: Kritik perilaku boleh, tapi menghina suku atau kelompok tidak pernah bisa dibenarkan.
• Sadari hukum dan konsekuensi sosial: Viral bukan hanya soal populer, tapi juga soal risiko tanggung jawab yang besar.
• Biasakan jeda berpikir: Satu menit menahan diri bisa menyelamatkan Anda dari penyesalan bertahun-tahun.
• Gunakan media sosial untuk nilai baik: Fokuslah untuk mengedukasi, menginspirasi, atau setidaknya menjaga diri agar tidak melukai.
Di era digital, diam kadang jauh lebih bijak daripada berbicara tanpa arah. Mendengar sebelum menulis, sebelum berbicara, dan sebelum merekam adalah tanda kedewasaan. Karena kata yang tak dijaga, akan sangat cepat berubah menjadi perkara. Dan pelajaran terbaik sering kali datang dari kisah yang tidak perlu kita alami sendiri.
Salam Seruput Kopi Panas.