Pagi ini saya berdiri di lapangan, mengikuti upacara peringatan Hari Bela Negara ke-77. Matahari belum sepenuhnya naik, tetapi Mars Bela Negara sudah lebih dulu membangunkan kesadaran. Tanggal 19 Desember kembali mengingatkan kita bahwa ada sejarah panjang tentang bertahannya republik ini, bukan karena segalanya mudah, tetapi karena banyak orang memilih untuk tetap setia.

Tanggal 19 Desember ditetapkan sebagai Hari Bela Negara berangkat dari peristiwa Agresi Militer Belanda II pada tahun 1948. Yogyakarta sebagai ibu kota negara diduduki, para pemimpin republik ditawan, dan dunia luar mengira Indonesia telah berakhir. Namun di tengah keterdesakan itu, negara tidak pernah benar-benar kosong. Di Sumatra Barat, Pemerintahan Darurat Republik Indonesia dibentuk untuk menjaga keberlangsungan republik. Negara ini selamat karena ada keberanian untuk tetap berdiri, meski dalam kondisi nyaris runtuh.

Tujuh puluh tujuh tahun kemudian, ancaman tidak lagi datang dalam bentuk serdadu dan senjata. Ia hadir melalui derasnya informasi, konflik wacana, ketidakpercayaan, dan kelelahan sosial akibat pemberitaan yang tak henti-henti. Dalam situasi seperti ini, bela negara sering kali terasa abstrak. Padahal, justru di ruang keseharian itulah maknanya diuji.

Membela negara hari ini bukan berarti menutup mata dari kekurangan, melainkan memilih untuk tetap peduli. Tetap bekerja dengan jujur saat integritas diuji. Tetap menjaga etika saat emosi mudah terpancing. Tetap berkontribusi meski hasilnya tidak selalu langsung terlihat. Negara ini tidak hanya butuh kritik, tetapi juga warga yang mau merawatnya dengan sikap dewasa.

Hal-hal sederhana yang bisa kita lakukan untuk membela negara:

• Bekerja dengan jujur dan profesional, apa pun peran kita.
• Taat aturan dan hukum, meski tidak diawasi.
• Menyaring informasi sebelum membagikannya.
• Menjaga tutur kata dan menghargai perbedaan.
• Berkontribusi di lingkungan sekitar, sekecil apa pun.
• Terus belajar dan meningkatkan kapasitas diri.
• Merawat optimisme dan tidak lelah berharap.

Karena pada akhirnya, negara ini berdiri bukan hanya oleh sejarah masa lalu, tetapi oleh sikap kita hari ini.

Selamat Hari Bela Negara. Salam seruput kopi panas.