Pagi ini seharusnya sederhana. Tas kerja sudah dimasukkan, dan kunci mobil siap diputar. Namun sebelum mesin menyala, semesta menyelipkan suara kecil yang mengubah segalanya:
“Meong… meong…”
lirih, tercekik, entah dari mana. Saya berhenti. Bukan karena takut mobil rusak, tapi karena suara itu terlalu kecil untuk diabaikan.
Saya dan anak bungsu mencari sumbernya. Ke kiri, ke kanan, ke kolong mobil. Saya sampai tiduran di lantai dingin, menatap ruang gelap di bawah mesin. Anehnya, suara itu tiba-tiba hilang. Seakan sengaja bermain petak umpet dengan kepanikan kami.
Lalu datanglah Blekete, kucing hitam kami. Ia masuk ke bawah mobil dan menghilang. Saat itulah kami tahu: suara itu bukan ilusi. Ada kehidupan kecil yang terjebak di sana.
Kami mencoba segalanya. Tetangga ikut membantu. Tapi mobil terlalu rendah, ruang terlalu sempit. Bahkan ada yang menyarankan dengan ringan,
“Udah, jalan aja ke kantor. Aman kok, nanti juga keluar sendiri.”
Saya menggeleng. Ada hal-hal yang tidak bisa diserahkan pada kata “nanti”. Ini soal nyawa. Dan hati kecil saya tidak mengizinkan pergi begitu saja.
Saya memutuskan membawa mobil ke bengkel terdekat. Harapannya sederhana: kalau mobil naik ke hidrolik, bayi kucing itu bisa diambil. Tapi hidup tidak selalu sejalan dengan harapan. Sekalian mobil dicuci. Dipindahkan. Dicari lagi.
Kosong.
Gelap.
Tak ada tanda.
Montir bekerja. Saya ikut masuk ke kolong. Berkali-kali. Penerangan dari senter pun sudah optimal. Namun tetap tidak ditemukan. Suara meong tidak terdengar lagi, senyap.
Kami hampir menyerah. Di titik itulah pikiran terlintas:
“Sudahlah… mungkin memang tidak bisa.”
Namun tepat saat saya hendak benar-benar berhenti, mata saya menangkap sesuatu yang janggal, di pojok kanan depan ruang mesin. Ada hitam yang berbeda. Bukan bayangan. Bukan dinding. Bulu.
“ITU DIAAA!”
Saya berteriak, nyaris histeris. Montir bergerak cepat. Tangannya masuk ke celah sempit yang sejak tadi terasa mustahil. Dan keluarlah seekor bayi kucing hitam pekat, basah kuyup, menggigil, tapi… hidup.
Warnanya yang hitam—yang membuatnya sulit ditemukan—ternyata juga yang membuatnya istimewa. Ia adalah anak si Blekete.
Menarik benang merah silsilah, Blekete adalah cucu dari Kukupih (Kucing Kuning Putih), yang melahirkan Kukucil (Kucing Kuning Kecil) dan Kukutam (Kucing Kuning Hitam). Kukucil sudah tiada. Kukutam melahirkan Blekete, kucing mungil, hitam legam, yang entah kenapa sering hamil, tapi anak-anaknya tak pernah bertahan lama. Entah ini anak keberapa.
Tapi pagi ini, kami berdoa semoga ia berbeda. Kami menamainya Kobil, singkatan dari kucing kolong mobil. Nama sederhana, lahir dari drama yang tak sederhana.
Pagi ini saya akhirnya berangkat kerja, dengan muka lusuh tapi hati penuh. Karena kami hampir menyerah, dan ternyata sedikit lagi saja, harapan itu benar-benar hilang.
Agar kucing tidak masuk ke ruang mesin mobil:
1. Biasakan mengetuk kap mobil atau klakson sebentar sebelum menyalakan mesin.
2. Periksa kolong mobil, terutama pagi atau malam hari.
3. Hindari parkir terlalu lama tanpa dicek, apalagi di area yang sering dilewati kucing.
4. Jika punya kucing, pastikan area parkir terang dan bersih agar mereka tidak menjadikannya tempat berlindung.
Kadang, yang kita kira gangguan pagi, ternyata adalah panggilan untuk tetap menjadi manusia. Dan saya yakin, di balik itu semua ada hikmah untuk kebaikan.
Salam seruput kopi panas.