Libur Nataru tahun ini kami pilih untuk berjalan lebih pelan. Bukan mengejar tempat wisata, bukan pula memburu keramaian. Mobil kami arahkan ke Ciamis, kampung halaman yang selalu menyimpan alasan untuk pulang.
Di sanalah ibu, kakak, kakek dan nenek kami dimakamkan, dalam satu kompleks pemakaman yang sunyi, teduh, dan penuh kenangan. Sementara ayah, beristirahat jauh di Banten. Dua titik yang berbeda, tapi satu ikatan yang sama: orang tua yang telah mendahului, namun tak pernah benar-benar pergi dari hati.
Ziarah kubur selalu menghadirkan perasaan yang sulit dijelaskan. Ada rindu yang diam, ada doa yang lirih, ada kesadaran bahwa hidup ini berjalan sangat cepat. Di hadapan nisan-nisan itu, kami berdiri bukan sebagai orang dewasa yang sibuk dengan urusan dunia, melainkan sebagai anak yang tetap kecil di hadapan orang tua, meski usia terus bertambah.
Kami membaca doa, menabur bunga, lalu duduk sejenak. Bukan untuk berbincang dengan mereka, tetapi untuk berbincang dengan diri sendiri.
Rasulullah SAW pernah bersabda, “Apabila seorang manusia meninggal dunia, terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim).
Hadits ini sederhana, namun menghunjam. Ia mengingatkan bahwa peran seorang anak tidak selesai ketika orang tua wafat. Justru di situlah bakti diuji: apakah doa masih mengalir, apakah hubungan masih disambung, apakah kebaikan orang tua masih diteruskan.
Maka perjalanan ke Ciamis ini tidak berhenti di makam. Salah satu agenda utama kami adalah bersilaturahmi dengan keluarga besar seperti paman, bibi, sepupu yang merupakan bagian dari kehidupan almarhum kedua orang tua. Dalam tuntunan agama, menyambung silaturahmi dengan kerabat orang tua yang telah wafat adalah bentuk bakti yang nyata.
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya termasuk bentuk berbakti yang paling utama adalah seorang anak menyambung hubungan dengan sahabat-sahabat ayahnya.” (HR. Muslim).
Bukan hanya sahabat, para ulama juga menegaskan bahwa kerabat, keluarga, dan lingkungan orang tua termasuk di dalamnya.
Silaturahmi itu sederhana. Duduk bersama, berbincang ringan, mengingat cerita lama, tertawa kecil, kadang terdiam saat nama ibu atau ayah disebut. Tapi justru di sanalah maknanya. Setiap jabat tangan, setiap kunjungan, setiap perhatian kecil adalah cara lain mengirimkan pahala, sebuah “kiriman amal” yang mungkin tak terlihat, namun diyakini sampai. Allah sendiri menjanjikan,
“Dan orang-orang yang menyambung apa yang Allah perintahkan untuk disambung… mereka itulah yang memperoleh kesudahan yang baik.” (QS. Ar-Ra’d: 21–22).
Di tengah silaturahmi itu, saya menyadari satu hal: berbakti kepada orang tua yang telah meninggal bukan hanya tentang doa yang dibaca, tetapi tentang hubungan yang dijaga, nama baik yang dirawat, dan nilai hidup yang diteruskan. Orang tua boleh wafat, tetapi jejak kebaikannya hidup melalui anak-anaknya.
Ziarah dan silaturahmi ini juga menjadi pelajaran bagi anak-anak kami. Mereka melihat langsung bahwa cinta kepada orang tua tidak berakhir di liang lahat. Bahwa mendoakan kakek-nenek, mengunjungi makam, dan menghormati keluarga besar adalah bagian dari iman. Barangkali inilah salah satu cara paling sunyi namun kuat untuk menanamkan nilai bakti lintas generasi.
Hikmah Ziarah Kubur
• Mengingatkan kefanaan hidup, sehingga kita lebih bijak menata prioritas.
• Menumbuhkan empati dan kerendahan hati, bahwa semua akan kembali ke tanah.
• Menjadi sarana mendoakan orang tua dan keluarga yang telah wafat.
• Menguatkan bakti melalui silaturahmi dengan kerabat orang tua.
• Menjaga hubungan spiritual antara yang hidup dan yang telah berpulang.
Ziarah bukan tentang masa lalu. Ia tentang masa depan, tentang bagaimana kita ingin dikenang, dan bagaimana kita meneruskan cinta yang pernah kita terima.
Salam seruput kopi panas.