Saya sering merasa, cara seseorang berbicara biasanya ada hubungannya dengan apa yang ia baca. Ada yang kalimatnya mengalir, ada yang kaku, ada pula yang tergesa-gesa. Dari situ saya makin yakin, membaca bukan cuma soal menambah pengetahuan, tapi membentuk cara berpikir dan bersikap.

Kebiasaan membaca saya tidak lahir dari target atau teori. Ia tumbuh begitu saja sejak SD. Sepulang sekolah, saya biasa membuka koran Pos Kota langganan almarhum bapak. Bukan bacaan anak-anak, memang. Tapi dari situlah rasa ingin tahu saya terbentuk. Saya membaca apa saja, dari halaman depan sampai kolom-kolom kecil. Kadang tidak paham betul isinya, tapi saya menikmati prosesnya. Tanpa disadari, kebiasaan itu melekat.

Masuk usia remaja, bacaan saya bergeser. Novel-novel Sydney Sheldon pernah jadi favorit. Ceritanya mengalir cepat, penuh kejutan. Dari sana saya belajar menikmati alur, memahami karakter, dan bertahan membaca berjam-jam tanpa merasa dipaksa. Membaca jadi kegiatan yang menyenangkan, bukan kewajiban.

Waktu berjalan, dunia kerja datang membawa tuntutan baru. Pelan-pelan genre bacaan saya berubah lagi. Novel mulai tergeser oleh buku-buku yang menunjang pekerjaan: komunikasi, kepemimpinan, pengembangan diri, dan hal-hal yang membantu saya memahami manusia dan organisasi. Membaca jadi lebih fungsional, tapi justru terasa lebih dalam. Saya membaca untuk mencari makna, bukan sekadar cerita.

Dari kebiasaan membaca itu, saya belajar satu hal penting: tidak semua hal harus cepat direspons. Membaca melatih saya menahan diri, mencerna, lalu berbicara seperlunya. Semakin banyak membaca, semakin terasa bahwa pengetahuan kita ini terbatas.

Sekarang saya melihat membaca sebagai perjalanan sunyi. Tidak selalu terlihat, tidak selalu dibicarakan, tapi pengaruhnya nyata. Cara berpikir lebih rapi, kata-kata lebih tertimbang, dan emosi lebih terkendali. Semua itu tumbuh pelan-pelan, tanpa terasa.

Sebagai penutup, ada beberapa hal sederhana yang saya pelajari soal membaca:

1. Mulai dari bacaan yang ringan dan dekat dengan keseharian.
2. Tidak perlu lama, yang penting rutin.
3. Tidak wajib menamatkan semua buku. Ambil yang perlu, pahami yang penting.
4. Biarkan selera bacaan berubah seiring usia dan kebutuhan.
5. Baca untuk memahami, bukan untuk merasa paling tahu.

Membaca mungkin terlihat sepele. Tapi bagi saya, dari kebiasaan kecil itulah cara berpikir, cara berbicara, dan cara memandang hidup perlahan dibentuk.

Salam seruput kopi panas.