Ada satu kebiasaan manusia yang jarang disadari, tapi sangat sering dilakukan: memandang hidup orang lain dari jendela kita sendiri. Dari kejauhan, hidup orang lain selalu tampak lebih rapi, lebih lapang, dan tentu saja lebih enak. Padahal, yang kita lihat sering kali hanya permukaannya saja. Inilah yang dalam budaya Jawa dikenal sebagai sawang sinawang yang dapat diartikan saling memandang, saling menyangka.

Seorang pegawai kerap membatin, “Enak ya jadi pengusaha, bebas waktu, duit mengalir, tidak pusing laporan bulanan.” Sementara di sisi lain, seorang pengusaha diam-diam berkata, “Enak ya jadi pegawai, tiap bulan gajian pasti, ada jam kerja jelas, bisa libur tanpa mikir omzet.” Dua-duanya saling iri, dua-duanya sama-sama lelah, hanya jenis lelahnya yang berbeda.

Pegawai melihat jas rapi dan mobil bagus, tapi tak melihat malam-malam tanpa tidur memikirkan gaji karyawan. Pengusaha melihat pegawai pulang tepat waktu, tapi tak melihat tekanan target, atasan, dan rasa cemas kehilangan pekerjaan. Yang satu iri pada kebebasan, yang lain iri pada kepastian. Padahal hidup jarang memberi kita keduanya sekaligus.

Hal serupa juga terjadi dalam banyak sisi kehidupan. Kita mengira teman yang aktif di media sosial selalu bahagia, padahal mungkin ia sedang menutupi sepi dengan unggahan. Kita mengira orang yang pendiam tak punya masalah, padahal bisa jadi ia sedang memikul beban yang tak sanggup ia ceritakan. Kita mengira rumah tangga orang lain selalu harmonis, tanpa tahu proses berdamai yang mereka lewati setiap hari.

Sawang sinawang membuat kita lelah sebelum benar-benar berjalan. Ia mencuri rasa syukur, mengaburkan logika, dan perlahan menumbuhkan prasangka. Kita sibuk menghitung nikmat orang lain, lupa menghitung kekuatan diri sendiri. Kita sibuk membandingkan garis hidup, padahal setiap orang berjalan di lintasan yang berbeda.

Seperti menyeruput kopi panas, hidup seharusnya dinikmati perlahan. Kopi orang lain mungkin tampak lebih manis, tapi kita tak tahu takaran pahit yang sudah ia telan. Bisa jadi, kopi kita sendiri sebenarnya pas, hanya saja kita terlalu sering melirik cangkir sebelah.

Agar kita tidak terjebak dalam sawang sinawang, ada beberapa hal sederhana yang bisa dilatih setiap hari:

Sadari bahwa yang kita lihat hanyalah potongan cerita, bukan keseluruhan perjalanan hidup seseorang.
Ganti membandingkan dengan memahami, karena empati jauh lebih menenangkan daripada iri hati.
Fokus merawat peran yang sedang kita jalani, bukan membayangkan peran orang lain yang tampak lebih nyaman.
Perbanyak syukur sebelum menambah keinginan, sebab syukur membuat beban terasa lebih ringan.
Belajar mendengar cerita, bukan hanya melihat hasil, karena setiap pencapaian selalu punya harga yang dibayar.

Pada akhirnya, sawang sinawang mengajarkan satu hal penting: hidup tak pernah benar-benar tentang siapa yang paling enak, melainkan siapa yang paling siap menjalani bagiannya dengan sadar dan ikhlas. Dan di sanalah, ketenangan perlahan diseruput, hangat, jujur, dan menenangkan.

Salam Seruput Kopi Panas.