Awalnya saya kira ini hanya saya. Duduk rapi di saf, khutbah baru berjalan beberapa menit, kepala terasa berat, dan mata mulai susah diajak kompromi. Seusai salat, obrolan ringan dengan jamaah lain justru membuka fakta menarik: hampir semua pernah mengalaminya. Mengantuk saat Jumatan ternyata fenomena bersama, diam-diam, tapi nyata.
Ilmu pengetahuan memberi penjelasan yang menenangkan. Waktu salat Jumat berada di fase alami tubuh yang disebut circadian dip, yaitu penurunan kewaspadaan di siang hari. Sejumlah penelitian di bidang tidur dan ritme biologis menyebutkan bahwa antara pukul 12.00–14.00, otak manusia memang cenderung lebih mudah lelah, bahkan pada orang yang tidur cukup. Ini adalah desain biologis, bukan soal niat atau kesungguhan semata.
Suasana masjid turut berperan. Duduk lama, minim gerak, udara yang hangat, dan suara khutbah yang tenang serta berirama memberi sinyal relaksasi pada sistem saraf. Dalam kajian psikologi kognitif, kondisi seperti ini mendorong otak masuk ke gelombang alfa, kondisi rileks yang membuat fokus mudah menurun dan kantuk lebih cepat hadir.
Belum lagi faktor kelelahan mental. Jumat sering menjadi hari akumulasi beban kerja. Pikiran masih penuh agenda, target, dan evaluasi. Saat tubuh sudah di masjid, sebagian pikiran masih tertinggal di meja kerja. Fenomena ini dikenal sebagai mental fatigue dan attention residue, ketika sisa perhatian belum sepenuhnya berpindah ke aktivitas yang sedang dijalani.
Kabar baiknya, kondisi ini bisa disiasati. Bukan dengan melawan tubuh, tapi dengan memahami dan mengelolanya secara sadar.
Beberapa tips sederhana agar tidak mudah mengantuk saat Jumatan:
1. Datang lebih awal untuk memberi jeda transisi dari urusan dunia ke suasana ibadah.
2. Duduk dengan postur tegak dan napas teratur, hindari posisi terlalu santai.
3. Jaga asupan sebelum Jumatan; hindari makan terlalu kenyang, terutama makanan berat.
4. Niatkan sejak awal untuk mencari satu pesan atau hikmah dari khutbah, bukan sekadar mendengar.
5. Sadari saat kantuk datang, tarik napas perlahan, luruskan niat, lalu hadir kembali.
Mengantuk saat Jumatan bukan tanda kegagalan, melainkan pengingat bahwa kita manusia dengan ritme dan keterbatasan. Yang terpenting bukan apakah kantuk itu muncul, tetapi bagaimana kita meresponsnya dengan kesadaran.
Seperti menyeruput kopi panas dengan pelan, hangat, dan penuh perhatian agar yang tersisa bukan kantuk, melainkan makna.
Salam Seruput Kopi Panas.