Akhir tahun selalu datang dengan suasana yang berbeda. Bukan semata karena kalender akan berganti, tetapi karena ia sering membawa peristiwa-peristiwa kecil yang diam-diam menyentuh batin. Tahun ini, bagi saya, akhir tahun ditandai oleh dua pamitan di lingkungan kerja. Dua orang, dua generasi, dua alasan yang tak sama, namun sama-sama mengajarkan arti kesetiaan dari sudut yang berbeda.
Orang pertama yang pamit adalah Pak Yanto. Sosok senior yang sejatinya telah menyandang status purnatugas beberapa tahun silam. Namun usia pensiun rupanya tidak serta-merta mengakhiri pengabdian. Keahlian dan ketelitiannya masih sangat dibutuhkan, terutama ketika perusahaan memasuki masa transisi pembangunan sistem administrasi yang menuntut kerapian data dan ketertiban arsip.
Tugas Pak Yanto tidak berubah sejak dulu: mengelola arsip, khususnya arsip keuangan. Pekerjaan yang jauh dari sorotan, tetapi sangat menentukan. Arsip-arsip lama, sebagian sudah berusia puluhan tahun, harus dirawat dengan penuh kehati-hatian. Salah letak satu dokumen saja, bisa berujung pada persoalan panjang. Sejak 2018, setelah pensiun dari Dahana, beliau kembali diperbantukan melalui koperasi untuk membantu kearsipan perusahaan hingga akhir 2025 ini.
Usianya kini sudah 64 tahun. Pagi itu, suasana kantor masih lengang. Baru saja saya turun dari kendaraan, Pak Yanto menghampiri. Seperti biasa, kacamatanya bertengger di kepala, senyumnya ramah, langkahnya pelan tapi pasti. Ia mengulurkan tangan, lalu berkata dengan suara tenang, hampir seperti berbisik,
“Pak, mohon izin mau pamit.”
Tidak ada keluhan. Tidak ada nada kecewa. Yang ada hanya kejujuran. Ia bercerita bahwa kecintaannya pada tugas dan perusahaan tidak pernah berkurang. Namun tubuhnya mulai memberi isyarat. Perjalanan Tasikmalaya–Subang yang ia tempuh setiap pekan kini terasa terlalu berat. Fisiknya tidak lagi sekuat dulu.
Dari Pak Yanto saya belajar bahwa kesetiaan tidak selalu berbentuk bertahan tanpa henti. Kadang, kesetiaan justru hadir dalam ketekunan mengerjakan hal-hal yang tampak sepele, tetapi krusial. Dalam sunyi ruang arsip, di antara map-map lama dan lembaran dokumen yang menguning, ia merawat memori organisasi dengan penuh tanggung jawab.
Sosok kedua yang pamit datang dari generasi yang jauh lebih muda. Lahir tahun 1997. Namanya Tegar. Ia adalah bagian dari tim saya ketika masih mengelola komunikasi perusahaan. Sejak awal, kami berjalan bersama. Ia tumbuh, belajar, dan berproses di lingkungan kerja yang sama.
Keputusan Tegar untuk pamit tidak diambil dalam satu malam. Saya mengikuti proses kebimbangannya, menyaksikan pergulatan batin yang tak sederhana. Hingga akhirnya ia menyampaikan alasan yang sangat manusiawi,
“Saya ingin menjaga orang tua saya. Ibu sedang sakit.”
Panggilan hati untuk berbakti kepada orang tua mengalahkan kecintaannya pada perusahaan. Dari sisi pekerjaan, Tegar adalah anak muda yang bisa diandalkan. Ia aktif, responsif, dan mau belajar. Saya mendorongnya terlibat dalam berbagai kegiatan, termasuk organisasi profesi. Ia bahkan pernah terpilih menjadi Relawan Bakti BUMN Batch IV tahun 2023 dan mengabdi ke Maluku, sebuah pengalaman yang membentuk kedewasaan dan perspektif sosialnya.
Lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Riau ini bergabung dengan Dahana sejak 2021. Empat tahun bukan waktu yang panjang, tetapi cukup untuk menanamkan kenangan, pelajaran, dan rasa memiliki. Kini, ia memilih pulang. Bukan karena gagal bertahan, melainkan karena memilih taat pada nilai yang ia yakini.
Dua pamitan ini mengingatkan saya bahwa kehidupan profesional tidak pernah berdiri sendiri. Di balik jabatan, target, dan indikator kinerja, selalu ada manusia dengan tubuh yang menua, hati yang gelisah, dan panggilan hidup yang berubah. Ada yang pamit karena fisik meminta jeda, ada yang pamit karena cinta memanggil pulang.
Akhir tahun, rupanya, bukan hanya soal menutup pekerjaan. Ia juga tentang merapikan perasaan. Tentang menerima bahwa kesetiaan tidak selalu diukur dari lamanya seseorang bertahan, melainkan dari kejujuran saat memilih jalan.
Dan saya belajar satu hal penting: pamit yang dilakukan dengan niat baik, akan selalu meninggalkan jejak yang baik pula.
Salam Seruput Kopi Panas.