Beberapa malam terakhir, meja makan di rumah kami berubah fungsi. Bukan lagi sekadar tempat makan, tapi arena kecil saya dan anak kedua saya bermain catur. Sementara adiknya menjadi suporter. Bidak putih selalu ia pegang. Dulu, pertarungan ini cenderung berat sebelah. Saya sering menang. Ia masih belajar, masih terlalu cepat membuka pion, atau menyerang sebelum waktunya.
Kini berbeda. Anak saya mulai hafal kebiasaan saya. Ia tahu kapan saya terlalu percaya diri, kapan saya ragu. Beberapa kali saya justru terjebak oleh langkahnya yang tenang. Bahkan, sesekali saya harus mengakui kalah. Ada senyum bangga di wajahnya saat kuda putihnya menekan ratu saya, senyum yang dulu sering saya rasakan.
Dari situ saya kembali diingatkan satu hal sederhana dalam catur: langkah kecil, kalau diletakkan di tempat yang tepat, bisa mengubah seluruh permainan. Pion yang tampak remeh bisa jadi penentu di akhir.
Prinsip itu ternyata hidup juga di luar papan catur.
Di panggung global, catur dimainkan dengan cara yang jauh lebih serius. Bukan bidak kayu, tapi kapal perang, pangkalan militer, tekanan ekonomi, dan diplomasi. Amerika Serikat saat ini masih sibuk di Ukraina, Timur Tengah, dan beberapa titik panas lain. Fokus dan energinya terbagi.
Di titik inilah Rusia bermain cerdik.
Alih-alih berhadapan langsung di satu medan besar, Rusia ikut “menghidupkan papan” di tempat lain: Venezuela dan kawasan Amerika Latin, wilayah yang selama ini dikenal sebagai “halaman belakang” Amerika Serikat. Hubungan militer, ekonomi, dan politik dengan Venezuela diperkuat. Pesan yang dikirim sederhana tapi tajam: kami bisa hadir di dekatmu, seperti kamu hadir di dekat kami.
Amerika tentu tak bisa diam. Kawasan Karibia dan Amerika Latin kembali mendapat perhatian serius. Armada, patroli, dan aktivitas militer ditingkatkan. Secara resmi alasannya bisa beragam seperti keamanan kawasan, stabilitas, atau isu lama seperti narkotika. Tapi di balik itu, ada satu kenyataan: perhatian Amerika terpecah.
Inilah inti permainan catur tingkat tinggi itu.
Bukan soal siapa paling kuat, tapi siapa paling pintar memaksa lawan membagi fokus. Seperti ketika anak saya sengaja mengorbankan satu pion. Di mata saya, itu terlihat sebagai keuntungan kecil. Tapi ternyata pion itu hanya umpan. Saat saya sibuk mengambilnya, benteng saya terbuka di sisi lain.
Begitu pula di geopolitik. Ketika satu kekuatan besar dipaksa merespons di banyak arah, seperti Ukraina, Timur Tengah, dan kini Amerika Latin, maka konsentrasi melemah. Setiap keputusan jadi lebih mahal, setiap kesalahan jadi lebih berisiko.
Ini bukan soal siapa menyerang lebih dulu, tapi siapa yang mengatur tempo.
Dan seperti di papan catur rumah kami, sering kali kemenangan bukan ditentukan oleh gebrakan besar, melainkan oleh langkah-langkah kecil yang sabar, konsisten, dan penuh perhitungan.
Pelajaran yang bisa kita petik:
• Kecerdikan sering mengalahkan kekuatan mentah.
• Membuka “front kecil” bisa berdampak besar jika lawan dipaksa berpikir ke banyak arah.
• Mengorbankan sesuatu hari ini bisa membuka jalan kemenangan esok hari.
• Yang paling menentukan bukan langkah kita, tapi bagaimana lawan dipaksa merespons.
Dari papan catur sederhana di meja makan, saya melihat bayangan permainan yang sama di panggung dunia. Skala berbeda, risikonya jauh lebih besar, tapi logikanya tetap sama:
siapa yang menguasai langkah, dialah yang mengendalikan arah permainan.
Salam seruput kopi panas.