Ada yang selalu bertanya setiap kali melihat saya menyeruput kopi hitam, “Aman nggak buat lambung?” Pertanyaan itu biasanya datang dengan nada khawatir, seolah kopi dan lambung adalah dua sahabat lama yang selalu bertengkar. Padahal, bagi saya, ngopi bukan sekadar soal kafein, melainkan ritual kecil untuk menjaga kejernihan pikiran di sela aktivitas yang padat.

Saya menyukai arabica, diseduh menjadi hot americano. Bukan untuk gaya-gayaan, tapi karena rasanya jujur. Tidak ditutupi gula, tidak disamarkan krimer. Hitam apa adanya. Di kantor, saya bahkan lebih sering membuatnya sendiri dari biji kopi, digiling dan diseduh menggunakan mesin kopi portable Siroca. Ada kepuasan tersendiri saat aroma kopi segar naik perlahan, seperti jeda yang sopan sebelum hari benar-benar berjalan cepat.

Soal kopi hitam dan kesehatan, sering kali yang disalahkan bukan kopinya, melainkan kebiasaannya. Kopi hitam, terutama arabica, dikenal memiliki tingkat keasaman yang relatif lebih bersahabat dan kaya antioksidan. Masalah lambung biasanya muncul bukan karena kopinya semata, tetapi karena waktu minum yang kurang tepat, perut yang terlalu kosong, atau cara menikmati kopi yang tergesa-gesa.

Saya belajar berdamai dengan kopi dengan cara yang sederhana. Tidak minum kopi di pagi buta saat perut belum diisi apa pun, memberi jeda setelah sarapan ringan, dan memastikan tubuh cukup minum air putih. Kopi juga saya nikmati perlahan, bukan diteguk cepat sambil dikejar target. Panasnya dihirup pelan, rasanya dikenali, bukan dilawan. Aneh tapi nyata, lambung pun terasa lebih tenang.

Porsi juga saya jaga. Satu sampai dua cangkir sudah cukup untuk menemani fokus, bukan untuk adu kuat. Saya juga lebih memilih kopi dari biji yang segar dan diseduh sendiri, karena kopi yang bersih rasanya lebih jujur di perut. Terlalu banyak campuran justru sering menjadi sumber masalah, bukan kopinya.

Pada akhirnya, ngopi adalah soal mengenal diri. Tubuh kita selalu memberi sinyal, hanya sering kita abaikan. Kopi hitam bisa menjadi sahabat yang setia, asal kita menghormatinya dengan kebiasaan yang bijak. Bukan soal berhenti ngopi, tapi belajar menikmati tanpa berlebihan.

Agar ngopi tetap nyaman di lambung, inilah kebiasaan kecil yang saya pegang:
1. Jangan minum kopi saat perut benar-benar kosong. Isi dulu dengan sarapan ringan agar lambung tidak kaget.
2. Pilih kopi arabica dengan kualitas baik. Rasanya lebih seimbang dan umumnya lebih ramah di perut.
3. Nikmati kopi dalam keadaan hangat, bukan tergesa. Diseruput pelan memberi waktu bagi tubuh untuk beradaptasi.
4. Batasi jumlah, bukan kenikmatan. Satu–dua cangkir sudah cukup untuk fokus dan jeda.
5. Minum air putih sebelum dan sesudah ngopi. Sederhana, tapi sering dilupakan.
6. Kurangi campuran berlebihan. Gula dan krimer sering lebih “jahat” bagi lambung dibanding kopi hitam itu sendiri.
7. Jadikan ngopi sebagai jeda, bukan pelarian. Lambung ikut lelah ketika pikiran terlalu dipaksa.

Di setiap seruput hot americano, saya menemukan ketenangan kecil. Kopi tidak pernah benar-benar bermasalah dengan lambung. Yang sering perlu kita benahi justru cara kita hidup: terlalu cepat, terlalu kosong, dan jarang memberi ruang untuk berhenti sejenak. Di situlah kopi, hitam dan hangat, hadir bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai pengingat.

Salam seruput kopi panas.