Pemikiran Prof. Rhenald Kasali selalu terasa relevan lintas waktu. Pertama kali berkesempatan bertemu beliau pada tahun 2016, saat mengikuti Rapat Kerja Forum Humas BUMN di Rumah Perubahan. Saat itu, gagasan tentang perubahan, keberanian keluar dari zona nyaman, dan pentingnya cara berpikir baru sudah menjadi benang merah yang kuat.
Gagasan yang sama kembali terasa aktual ketika Prof. Rhenald hadir dalam Townhall Meeting DAHANA pada 8 Januari 2026. Dalam forum tersebut, saya berkesempatan mendampingi beliau sebagai moderator. Namun yang jauh lebih penting dari forum itu sendiri adalah pesan-pesan strategis yang kembali menegaskan bahwa dunia telah berubah secara fundamental.
Kita tidak lagi hidup di dunia yang statis, sebuah dunia yang biasanya cukup disikapi dengan angka, target, dan rencana tahunan. Dunia kini bergerak dinamis, penuh ketidakpastian, dipengaruhi disrupsi teknologi, dinamika geopolitik, perubahan generasi pekerja, serta kompetisi yang semakin kompleks. Dalam situasi seperti ini, cara lama membaca bisnis dan organisasi menjadi tidak lagi memadai.
Karena itu, RKAP tidak semestinya dipahami sekadar sebagai dokumen rencana dan angka. RKAP adalah alat berpikir strategis, bahkan alat keberanian. Keberanian untuk keluar dari perangkap masa lalu, melihat realitas dengan cara baru, dan membangun lompatan (leap) melalui ekosistem yang adaptif, selaras, dan bermental penggerak, bukan sekadar penumpang.
Prof. Rhenald juga mengingatkan bahwa kegagalan organisasi sering kali bukan disebabkan oleh strategi yang keliru, melainkan oleh organisasi yang tidak siap. Tanpa budaya yang sehat, kepemimpinan yang matang, dan mentalitas yang tepat, strategi sebaik apa pun akan kehilangan daya dorongnya. Transformasi sejati menuntut disiplin berpikir dan disiplin bertindak—dimulai dari orang yang tepat, keberanian menghadapi fakta apa adanya, fokus pada kekuatan inti, serta budaya disiplin yang konsisten.
Kepemimpinan dalam konteks ini bukan soal karisma atau ego personal, melainkan kemampuan mengorkestrasi perubahan. Pemimpin hadir dengan kerendahan hati pribadi dan keteguhan profesional, memberi arah, sekaligus memastikan organisasi siap bertumbuh di tengah ketidakpastian.
Perbaikan bisnis pun tidak bisa dilakukan secara parsial. Ia menuntut pergeseran mindset dan kapabilitas people, penguatan inovasi proses dan model bisnis, pengelolaan risiko, peningkatan non-technical skills, serta keberanian membangun brand dan pasar jangka panjang. Semua itu hanya mungkin jika organisasi beralih dari mode autopilot menuju mode aktif dari sekadar menjalankan rutinitas menuju eksplorasi, pembelajaran, dan inovasi berkelanjutan.
Pesan penutup yang terasa kuat adalah tentang self-driving mentality. Perubahan tidak bisa hanya mengandalkan sistem atau arahan dari atas. Ia harus dimulai dari kesadaran individu untuk menggerakkan diri sendiri. Dari sanalah organisasi bisa digerakkan, dan lompatan yang lebih besar dapat diwujudkan.
Beberapa point pengingat:
1. Dunia bergerak dari statis ke dinamis, penuh ketidakpastian
2. RKAP bukan sekadar angka & rencana, tetapi alat berpikir dan bertindak
3. Strategi hebat bisa kalah oleh organisasi yang tidak siap
4. Transformasi butuh disiplin berpikir & disiplin aksi
5. Kepemimpinan sejati: rendah hati, tegas, dan mampu mengorkestrasi perubahan
6. Dari autopilot ke active mode: exploit sekaligus explore
7. Bangun self-driving mentality: mulai dari diri sendiri, lalu organisasi
Pada akhirnya, tantangan terbesar bukan terletak pada seberapa canggih rencana yang disusun, melainkan pada kesiapan kita untuk berubah. Dunia akan terus bergerak, sering kali lebih cepat dari yang kita perkirakan.
Di titik inilah RKAP menemukan maknanya yang paling dalam: bukan sekadar sebagai arah kerja, tetapi sebagai kompas untuk menjaga keberanian berpikir, ketajaman membaca realitas, dan konsistensi melangkah. Lompatan tidak selalu harus besar dan dramatis, namun harus dimulai dengan kesadaran bahwa bertahan dengan cara lama bukan lagi pilihan.
Salam seruput kopi panas