Langit Subang sore ini sedang tidak ingin diajak kompromi. Senja yang biasanya menawarkan jingga, kali ini tertutup mendung tebal. Hujan turun tanpa permisi, membuat suasana menjadi dingin dan melankolis.
Saya duduk melantai, berbincang santai dengan rekan-rekan muda pengurus masjid selepas Ashar berjamaah. Kami baru saja selesai sholat, sempat berfoto bersama, diselingi tawa-tawa kecil. Sekilas, hanya aktivitas biasa pengisi jeda kerja.
Ketika kembali ke ruangan, secangkir hot americano menjadi sajian. Namun, entah kenapa, obrolan ringan kami sore ini rasanya menohok ulu hati. Tiba-tiba ada “sentilan” yang mampir di kepala. Rasanya tajam dan menyentak, persis seperti sensasi pahit saat menyeruput kopi hitam tanpa gula.
Ada sebuah nasihat lama yang tiba-tiba terngiang:
“Hidup ini sejatinya hanyalah menunggu waktu sholat, dan menunggu disholatkan.”
Jika esensi hidup adalah “menunggu waktu sholat”, lantas kemana saja kita selama ini?
Pertanyaan itu berputar liar. Saya teringat fenomena yang sering terjadi, dan jujur saja, ini otokritik keras buat saya pribadi. Kita seringkali merasa bangga ketika nama kita tercantum dalam Surat Keputusan (SK) Pengurus Masjid (DKM). Ada rasa gagah menjadi “orang penting” yang mengurus rumah Allah.
Tapi ironisnya, nama kita ada di SK, tapi raga kita entah di mana saat adzan berkumandang.
Kondisi ini mengingatkan saya pada kritik sosial yang sering kita dengar tentang para wakil rakyat. Mereka berapi-api membahas pengentasan kemiskinan, membahas nasib rakyat kecil yang kehujanan di gubuk reot, tapi rapatnya digelar di ballroom hotel bintang lima yang sejuk dan mewah. Hasilnya? Seringkali kebijakan yang “jauh panggang dari api”. Tidak nyambung.
Setali tiga uang dengan kita. Bagaimana kita mau memakmurkan masjid, kalau kita sendiri jarang “mampir” di sana? Bagaimana kita mau mengajak orang meramaikan rumah Allah, kalau pengurusnya sendiri lebih sibuk dengan rapat-rapat duniawi daripada hadir di saf depan?
Kita sibuk membahas program, tapi lupa pada “tujuan utama” program itu dibuat. Kita sibuk mengurus administrasi masjid, tapi lupa menjadi hamba yang merindukan masjid. Tulisan ini bukan untuk siapa-siapa, ini cermin retak buat saya sendiri. Bahwa jabatan di DKM itu bukan prestasi, tapi beban amanah yang ngeri-ngeri sedap.
Sebagai penutup, sekaligus pengingat agar kopi ini tidak menyisakan ampas pahit belaka, mari kita coba perbaiki niat dengan langkah kecil:
1. Jadikan Masjid “Kantor Kedua”
Jangan hanya ke masjid saat ada rapat pengurus. Jadikan masjid tempat “transit” wajib jiwa kita. Sebelum SK berbicara, biarkan kehadiran fisik kita yang bersuara.
2. Malu pada SK
Setiap kali melihat nama kita di struktur pengurus, tanyakan: “Apakah malaikat juga mencatat nama saya sesering nama ini tercetak di kertas?” Malulah jika nama di kertas lebih eksis daripada jidat di sajadah.
3. Filosofi Menunggu
Ingat kembali, kita sedang menunggu waktu sholat. Jangan sampai kesibukan mengurus organisasi masjid justru melalaikan kita dari sholat itu sendiri.
Hujan masih turun di luar sana. Semoga airnya turut membasuh kelalaian kita selama ini. Seruput kopi panasnya, kawan. Mari kembali ke masjid.