Sembari menyesap Americano hangat pagi ini, pikiran saya terbang melintasi selasar Masjid Raudhatul Ilmi di Kawasan BRIN Subang. Bayangan wajah-wajah tulus para pengurus DKM, remaja masjid, hingga marbot yang hadir saat peluncuran Komunitas Masjid Berdampak (KOMPAK) tempo hari masih terekam jelas. Ada getaran semangat yang luar biasa dari sekitar 150 peserta yang hadir, namun di balik itu, terselip sebuah kegelisahan kolektif yang harus kita jawab bersama.
Sebuah tanya yang sederhana, namun cukup untuk membuat kita terdiam sejenak:
“Jika hari ini masjid kita sunyi dari langkah kaki anak muda, lantas siapa yang akan mengumandangkan adzan di masjid ini 10 atau 20 tahun lagi?”
Amanah yang Menghujam Kalbu
Mendapat kepercayaan untuk ikut mengawal lahirnya KOMPAK adalah sebuah perjalanan batin yang mendalam bagi saya. Ini bukan tentang jabatan atau posisi, karena di hadapan rumah Allah, kita semua hanyalah pelayan. Tugas kita bukan sekadar memastikan ubin masjid tetap berkilau atau menara menjulang megah, melainkan memastikan bahwa ruh dari bangunan itu tetap hidup melampaui usia kita sendiri.
Kita sering terpaku pada kemegahan fisik, namun terkadang lupa membangun “jembatan” bagi mereka yang akan mewarisi mimbar ini. Jika kita membiarkan generasi muda merasa asing di rumah Tuhannya, kita sebenarnya sedang mempertaruhkan masa depan syiar itu sendiri.
Menenun Harapan Melalui KOMPAK
KOMPAK lahir bukan untuk berjalan sendirian atau sekadar menjadi forum silaturahmi formal. Kami ingin menjadi support system, ruang kolaborasi bagi lebih dari 100 masjid di Subang yang telah menyatakan komitmennya untuk bergerak bersama. Kita ingin masjid-masjid kita menjadi pionir gerakan yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekitar.
Ikhtiar ini kami susun dalam langkah-langkah nyata yang menyentuh akar rumput:
• Transformasi Manajemen: Kami ingin mendampingi setiap DKM agar memiliki tata kelola keuangan yang profesional, transparan, dan akuntabel, sehingga kepercayaan umat semakin kuat.
• Insight Series & Digitalisasi: Masjid harus kembali menjadi pusat ilmu yang relevan melalui kelas rutin tentang kepemudaan, digitalisasi, dan pengembangan program sosial.
• Safari Dakwah & Studi Tiru: Kita tidak perlu merasa benar sendiri; melalui safari dakwah dan studi tiru antar-masjid, kita bisa saling berbagi praktik baik dan belajar dari keberhasilan saudara kita di tempat lain.
• Pemberdayaan Sosial yang Nyata: Terinspirasi dari konsep seperti “Masjid Makan-Makan,” kita ingin masjid hadir sebagai solusi bagi warga yang lapar, pelindung bagi yang lemah, dan rumah bagi mereka yang mencari arah.
• Akses Kolaborasi: Kita tidak ingin masjid berjuang sendirian; KOMPAK akan menjadi jembatan untuk menghubungkan potensi CSR, bantuan pemerintah, hingga lembaga filantropi demi percepatan kemakmuran masjid.
Menanam Hari Ini, Memanen Masa Depan
Dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Subang, melalui Wakil Bupati H. Agus Masykur Rosyadi, memberikan kita angin segar bahwa gerakan ini adalah kepentingan kita semua. Masjid harus menjadi ruang yang inklusif, tempat kolaborasi lintas generasi, dan pusat pemberdayaan yang berdampak.
Pada akhirnya, keberhasilan kita semua di KOMPAK tidak akan diukur dari ramainya seremoni peluncuran kemarin. Tolok ukurnya adalah ketika kita melihat anak-anak muda mulai memenuhi shaf, ketika warga merasakan kehadiran masjid saat mereka kesulitan, dan ketika kita yakin bahwa 20 tahun lagi, suara adzan itu masih akan menggema dengan megah karena ada generasi yang telah kita siapkan hari ini.
Mari kita tuntaskan sisa kopi ini, lalu kembali bersiap di selasar. Sebab rumah Allah ini sedang menanti baktinya, dan masa depan umat sedang menunggu kita menjemput mereka.
Salam seruput kopi panas dari selasar masjid.