Jujur saja, di tengah riuh pemberitaan media soal Bu Cinta dan Kang Emil belakangan ini, pikiran saya malah melompat ke satu momen yang jauh lebih tenang. Bukan tentang rumor, bukan tentang viral. Tapi tentang sebuah siang di Subang, beberapa tahun lalu, ketika saya menerima kunjungan tamu.
Saya masih ingat betul, 16 September 2022. Pak RK dan Bu Cinta berkunjung ke kantor. Hari itu saya mendampingi Bu Cinta berkeliling Kampus DAHANA. Tidak ada suasana tegang, tidak juga kaku. Kami bersama rombongan berjalan pelan, berbincang ringan, sesekali berhenti karena Bu Cinta tertarik dengan sudut-sudut tertentu kampus. Cara beliau melihat-lihat itu bukan seperti tamu formal, lebih seperti orang yang sedang menikmati ruang—ruang yang hidup.
Yang membuat saya terkesan, Bu Cinta tidak sekadar “datang dan lewat”. Ada rasa ingin tahu yang tulus. Beliau mengamati bangunan, bertanya, lalu tersenyum. Saya menangkap satu kesan sederhana: beliau menikmati kampus ini bukan sebagai simbol perusahaan, tapi sebagai tempat orang belajar, bertumbuh, dan bekerja dengan cara yang lebih manusiawi.
Saya mendampingi mereka berkeliling sambil bercerita tentang DAHANA, tentang bagaimana kampus ini bukan hanya kantor pusat, tapi memang dirancang sebagai ruang pembelajaran. Tempat karyawan belajar, tamu berdiskusi, mahasiswa datang menimba pengalaman, dan gagasan-gagasan baru diuji. Di titik itu, saya merasa Kampus DAHANA bukan sekadar bangunan, tapi semacam pernyataan sikap: bahwa industri pun bisa punya wajah yang ramah, hijau, dan terbuka.
Kalau orang luar mengenal DAHANA sebagai perusahaan bahan berenergi tinggi, di kampus ini justru yang terasa adalah energinya manusia. Obrolan, diskusi, tawa kecil di sela kunjungan, semua itu membuat saya yakin, tempat kerja yang baik bukan yang paling megah, tapi yang membuat orang betah belajar dan berpikir.
Maka ketika hari ini nama Bu Cinta kembali ramai dibicarakan dari berbagai sudut, saya memilih mengingat momen ini. Momen ketika seseorang hadir apa adanya, tanpa sorotan berlebihan.
Sebagai penutup, ini beberapa hal yang hingga hari ini masih membuat Kampus DAHANA terasa berbeda:
🌿 Konsep hijau yang sungguh-sungguh, bukan sekadar tempelan istilah. Kampus ini dibangun dengan semangat ramah lingkungan dan sudah mendapat pengakuan nasional.
📚 Bukan cuma kantor, tapi ruang belajar. Mahasiswa, praktisi, hingga mitra sering datang ke sini untuk berdiskusi dan belajar langsung.
🧩 Tata ruang yang mengundang obrolan. Banyak sudut yang terasa akrab, bukan dingin seperti kantor pada umumnya.
🤝 Tempat bertemunya banyak dunia. Industri, pendidikan, pemerintahan, semuanya bisa duduk satu meja, tanpa jarak.
Akhirnya saya sampai pada satu kesimpulan kecil: hidup sering kali terlalu ribut oleh penilaian orang lain. Padahal, yang benar-benar tinggal dalam diri kita justru adalah perjumpaan-perjumpaan sederhana, yang dijalani dengan niat baik dan percakapan yang jujur.
Dan Kampus DAHANA, bagi saya, adalah salah satu saksi dari perjumpaan semacam itu.
Salam seruput kopi panas.