Dingin ruangan ber-AC memang perlu disiasati supaya isinya menjadi hangat. Karena kalau dibiarkan lama-lama bisa jadi membeku. Maka keluarlah jurus andalan penghangat suasana, berpantun. Saya menyebutnya dengan istilah diplomasi pantun, karena pantun ini menjadi jembatan untuk mencairkan suasana terutama disesi permulaan acara.

Seperti halnya pada saat kunjungan Menristek/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bapak Bambang Brodjonegoro. Kondisi ruangan dingin dengan posisi Pak Menteri sedang berpuasa sunah (waktu itu hari Senin), karena perut tidak dapat dihangatkan dengan panganan maka suasananya yang perlu dihangatkan dengan berpantun. Rupanya, Pak Menteri tidak ingin melewatkan untuk membalas pantun. Pantun dibalas pantun, ujarnya. Dan menurut protokolernya, berpantun ini jarang-jarang loh Pak Menteri.

Kalau bicara Menristek, saya mengenal sosok-sosok yang mengisi pos Menteri ini orangnya santai. Yang saya ingat betul adalah sosok Pak Gusti Muhammad Hatta. Dalam beberapa kesempatan berbincang di pameran, beliau begitu santai tanpa pengawalan. Juga pada saat meresmikan Masjid Al Akhdar di lingkungan kantor, beliau tampil bersahaja. Begitu pun sosok Bambang Brodjonegoro ini, santai dan rajin berpuasa Senin – Kamis. Satu hal yang perlu digarisbawahi, tugas sebagai Menristek memang tidak ringan.

Kembali ke pantun, keriuhan suasana ini mengingatkan saya pada beberapa acara terdahulu. Suatu ketika nun jauh di Bontang Kaltim, pancingan pantun saat mengawali acara membuat Bu Walikota Bontang begitu semangat untuk membalasnya pada saat memberikan sambutan. Dan yang terjadi akhirnya banjir pantun dari para pengisi acara. Hal ini juga pernah terjadi pada saat mengawal acara Bu Menteri Rini Sumarno, pantun membuat semuanya menjadi tergelak dalam tawa riang.