Udara pagi sejuk terasa. Cahaya redup lampu cukup nyaman di mata. Barisan depan jamaah sudah terisi sebagian dengan jarak khas protokol Covid-19. Nampak persis di belakang area imam sudah duduk bersila sang kakek menunggu sholat berjamaah. Sementara jarum jam menunjukkan pukul setengah lima lewat sedikit.

Dulu, sang kakek masih sering terlihat menjadi imam, kadang bergantian dengan kakek yang lainnya. Namun, sejak dua tahunan ini sang kakek lebih sering berdiri di barisan jamaah. Posisi imam sholat berjamaah diisi oleh bapak yang nampak lebih muda, pun kadang bergantian dengan bapak muda lainnya. Rupanya telah ditetapkan urutan imamnya. Suara bacaan Al Qurannya lebih segar, surat yang dibaca bervariasi dan tartil.

Musyawarah untuk menempatkan kembali posisi imam kepada orang yang tepat sesuai kaidah berjalan baik. Perubahan ini disikapi legowo oleh para ‘senior’. Dengan berbesar hati, mereka tetap berada dalam barisan jamaah. Bahkan tidak mengubah kebiasaan untuk datang lebih awal dan berada di barisan terdepan.

Seringnya yang terjadi kebalikannya. Karena merasa paling senior, walau dengan modal bacaan Al Quran pas-pasan, tetap memaksakan diri menjadi imam abadi. Kalau ia belum datang, sholat berjamaah belum akan dimulai. Pun enggan menjadi makmum jika dipimpin oleh yang lebih muda padahal bacaan Al Quran dan keilmuannya baik.

Imam Syafi’i menjabarkan salah satu hadits dalam kitab Al-Umm, bahwa apabila suatu kaum berkumpul di suatu tempat tanpa ada wali di antara mereka, hendaklah mereka menunjuk imam sholat berdasarkan beberapa syarat. Syaratnya antara lain orang yang paling baik bacaan Alquran-nya, paling fakih, dan paling tua di antara mereka.

Jika semua sifat itu tidak terhimpun pada seorang pun dari mereka, yang harus mereka pilih adalah orang yang paling fakih, kalau orang itu memiliki kemampuan membaca yang cukup bagi sahnya sholat. Menjadi baik jika mereka menunjuk orang yang paling bagus bacaannya di antara mereka jika orang itu memiliki pengetahuan fiqih yang diharuskan berkenaan dengan sholat.

Adalah baik pula bagi mereka jika menunjuk orang yang memiliki kedua sifat tersebut daripada orang tua di antara mereka. Para imam pada masa lalu masuk Islam ketika mereka sudah tua sehingga mereka menguasai fiqih sebelum bacaan Alquran mereka bagus, sedangkan generasi setelahnya justru sudah belajar Alquran sejak belia sehingga banyak dari mereka yang menguasai fiqih.

Oleh sebab itu, Imam Syafi’i berpendapat, ketika ada seseorang yang menguasai fiqih lalu dia mampu membaca sebagian dari Alquran dengan baik, dialah yang berhak menjadi imam sholat. Sebab, di dalam sholat, dia akan mengetahui apa yang harus dilakukannya sesuai dengan fiqih.

Dalam lirih sayup lantunan dzikir pagi, kita diajarkan tentang arti berbesar hati oleh sang kakek. Juga tentang arti meluruskan niat dalam beragama semata karena Allah SWT. (jjs/republika)