Daun tua jatuh, daun muda pun jatuh ke bumi dari tangkainya. Pada akhirnya, tua dan muda bukan lagi menjadi ukuran yang valid untuk menentukan bertahan pada tangkai batangnya. Begitu pun dengan usia manusia. Kita seringkali dibuat terkaget-kaget dengan kepergian seseorang yang usianya masih muda, sementara orang yang tua renta dan dirundung sakit malah berusia panjang. Itulah kematian, tidak pandang usia.

Rina Erita, wanita kelahiran 12 Juni 1978 ini diprediksi memiliki karier yang moncer di BUMN Bahan Peledak Dahana. Hal tersebut telah terlihat semenjak ia bergabung dengan BUMN yang lahir di Tasikmalaya pada 1966. Bersama dengan 20an rekan-rekan seangkatannya masuk DAHANA, Rina Erita diterima bekerja di DAHANA pada 1 Maret 2003. Angkatan 2003 ini merupakan angkatan pertama sistem Management Trainee (MT), dengan memutar penempatan selama setahun di beberapa departemen, termasuk mengenal site project nun jauh di pelosok tanah air.

Dalam satu kesempatan bersama BOD, para calon karyawan (Cakar) ditanya satu persatu tentang cita-citanya di DAHANA. Dari sekian jawaban, Rina Erita yang memberikan jawaban paling menggigit dan terukur, “Saya ingin menjadi Dirut,” jawabnya tegas.

Seiring waktu, perjalanan karier wanita lulusan Teknik Kimia UGM yang lulus pada 2002 ini relatif cepat. Rina Erita mengawali kariernya sebagai Staf Rekayasa dan Produksi di Tasikmalaya pada 2003. Di sini, Rina mulai akrab dengan ‘mainan barunya’ cartridge emulsion maupun bulk emulsion. Rina juga aktif membantu dalam proses paten produk dan teknologi DAHANA. Hingga pada 2008, dengan posisi Asman Rekayasa Produk & Jasa, Rina mulai masuk ke proyek pembangunan Pabrik Amonium Nitrat di Bontang. Termasuk mulai mengurus izin lingkungan untuk pabrik yang digadang-gadang masa depan Dahana.

Pada Nopember 2010, Rina menduduki posisi Manajer Produksi JO Dahana-BBRI di Bontang. Hingga pada 2013 Rina Erita kembali ke Subang untuk mengawal Pabrik Booster. Kemudian, pada Nopember 2015 Rina menjabat sebagai Senior Manager K3LH & Teknologi. Di fase ini, Rina Erita mengawal pembangunan Pabrik TNT/Bomb Filling, Pabrik Nitrogliserin, Pabrik Fuze Assembly dan Pabrik Emulsifier.

Jenjang Eselon I (BOD-1) pun diraih pada 10 Juni 2019 dengan menduduki posisi Deputi Direktur Perencanaan Perusahaan dan Logistik. Pada Februari 2021, Rina Erita bergeser menjadi Sekretaris Perusahaan. Sebagai ketua Tim Task Force Covid-19, Rina Erita gencar melaksanakan program pencegahan Covid-19 di lingkungan perusahaan.

Kabar Rina Erita terpapar Covid-19 menyeruak pada Senin, 5 Juli 2021. Kabar duka melalui pesan instan datang menjelang subuh pada Ahad, 11 Juli 2021. Ibundanya meninggal di Jambi. Tidak berselang lama, Tim Medis Dahana berkabar Rina Erita kondisinya memburuk dengan saturasi yang terus menurun. Setelah berupaya keras di tengah membludaknya pasien covid, Tim Medis berhasil mendapatkan bed di RSUD Subang.

Hari demi hari, kondisi kesehatan Rina Erita pun tidak stabil. Kabar saturasi yang terus menurun dikisaran 40 – 60 membuat khawatir banyak orang. Hingga akhirnya, kabar duka itu datang, Rina Erita telah tiada pada Selasa, 13 Juli 2021 pukul 15.16 Wib di RSUD Subang. Sesuai permintaan almarhumah melalui keluarga, ia dimakamkan di Jambi. Setelah menempuh perjalanan panjang hampir 20 jam Subang – Jambi, akhirnya Pemakaman Pusara Agung menjadi tempat peristirahatan terakhirnya.

DAHANA berkabung, Rina Erita yang dikenal tegas kini telah tiada. Banyak yang tidak menyangka, wanita yang memiliki kemampuan tiga bahasa asing (Inggris, Prancis dan Arab) ini pergi begitu cepat. Selamat jalan kawan, semoga mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT.

Dari Seorang Kawan.