Dejavu, mungkin kata itu yang pas untuk yang saya alami beberapa waktu belakangan ini. Ketika dua anak kucing mungil muncul dan betah tinggal di teras rumah. Dejavu adalah sebuah gambaran sensasi di mana kita merasa pernah mengalami sesuatu. Bahkan ketika kita tahu bahwa pengalaman tersebut tidak pernah dialami sebelumnya.

Dejavu merupakan kata yang berasal dari bahasa Prancis, yang artinya “sudah pernah melihat”. Sebutan ini pertama kali dicetuskan oleh seorang filosofis dan ilmuwan asal Prancis Émile Boirac pada tahun 1876.

Kembali ke dua kucing mungil. Kehadirannya mengingatkan pada saat awal kedatangan Kukupih yang ‘diantar’ sama induknya bersama saudaranya ke rumah beberapa tahun lalu. Namun, kemudian hanya Kukupih yang terus tinggal hingga dewasa, sampai akhirnya tiada beberapa bulan lalu.

Dua kucing kecil ini pun datang ‘diantar’ oleh induknya. Beberapa kali memang hanya terlihat pada ‘jam makan’ saja. Biasanya setelah diberi makan mereka pergi entah kemana. Namun, beberapa pekan kemudian terlihat dua kucing kecil ini merasa nyaman tinggal di teras rumah. Selain semakin jinak, dua kucing ini lebih sering berada di teras rumah.

Kucing pertama berwarna kuning, ada warna putih sedikit. Rupanya plek mirip dengan Kukupih. Namanya Kukucil (Kucing Kuning Kecil). Saudaranya berwarna hitam, ada sedikit warna kuning. Dia lebih banyak mengalah ketika sesi makan. Dia diberi nama Kukutam (Kucing Kuning Hitam).

Kebiasaan dua kucing kecil ini sudah mulai mirip dengan Kukupih. Mereka sudah bersiap di depan pintu rumah kala hendak berangkat Sholat Subuh ke Masjid. Mungkin Adzan Subuh berfungsi sebagai alarm bagi mereka. Selepas pulang dari masjid, barulah mereka diberi makan. Sedekah pagi.

Kebiasaan lainnya adalah setelah makan langsung leye-leye. Mereka tiduran di atas keset, kadang tidurnya seperti sedang pingsan. Walaupun keluarga saya menyukai kucing, tapi tidak sampai masuk ke dalam rumah. Mereka diberi makan dan sebagai teman bermain anak-anak di teras rumah.