Mungkin kita mendengar berita duka dalam beberapa hari ini.  Berita duka datang bisa dari mana saja, seperti rekan, kerabat, artis hingga petinggi negeri.  Sering pula kita dibuat terheran-heran, kemarin masih segar bugar esoknya telah meninggal.  Ada juga usia masih belia tapi tak berumur panjang. 

Hal ini dapat diilustrasikan juga dengan bagaimana daun jatuh ke bumi.  Daun kering jatuh, daun muda yang masih berwarna hijaupun jatuh juga.  Itulah ajal, tak mengenal batas usia.

Karena kematian adalah sebuah kepastian, maka yang harus kita persiapkan adalah bekalnya.  Dunia ini ibarat pulau tempat persinggahan dalam sebuah pelayaran.  Di sini kita diberi kesempatan menyiapkan perbekalan untuk melanjutkan pelayaran ke tujuan akhir.  Tapi dalam prakteknya, banyak akhirnya yang terlena dengan keindahan pulau (dunia) itu sehingga tak cukup bekal pada saat kapal harus berlayar kembali.

Sebuah nasyid lawas Suara Persaudaraan karya Pakde Ikmal yang berjudul Dzikrul Maut yang ada di album Bara dan Takziyah mengingatkan untuk berbekal.

Berbekallah untuk hari yang sudah pasti

Sungguh kematian adalah muara manusia

Relakah dirimu Menyertai segolongan orang

Mereka membawa bekal sedangkan tanganmu hampa

Oleh karenanya, nasihat Nabi “Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara” sangat pas dalam bab ini.  Pertama, Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu.  Kedua, Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu.  Ketiga, Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu.  Keempat, Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu.  Dan kelima, Hidupmu sebelum datang matimu.

Akhirnya kita tiba pada sebuah nasihat lainnya, tidak ada alasan untuk menunda beribadah.  Apalagi dengan pernyataan “Nanti saja kalau sudah agak tuaan”. Karena tidak ada jaminan usia kita sampai tua.  Jangan tertipu oleh mudanya usia.  Semoga kita semua menemukan akhir yang baik dalam husnul khotimah.