Ramadhan memang membuat perbedaan dalam hal antusiasme beribadah. Sholat tarawih menjadi momentum yang ditunggu-tunggu, terutama oleh anak-anak. Mereka diantaranya Faro (8) dan Amzar (5).

Sebelum adzan Isya berkumandang, mereka tak sabar untuk bergegas berangkat. Setibanya di Masjid, suasana ramai tua muda hingga anak-anak. Baris jamaah wanita di bagian belakang terpisah penutup dari kain berwarna hijau.

Terkait mengajak anak ke Masjid, ada minimal tiga hal yang harus diperhatikan. Pertama, berikan pendampingan. Banyak orangtua melepas anak ke masjid tanpa pendampingan di awal. Alhasil, anak-anak banyak bercanda dengan anak lainnya sehingga cenderung menggangu pada saat sholat. Ajaklah berdiri berdampingan antara anak dan orangtua. Cari tempat yang kondusif dekat dengan dinding.

Kedua, pada saat perjalanan ke masjid menjadi momentum untuk memberikan pencerahan kepada anak. Bisa beraneka ragam topik yang disampaikan secara ringan. Seperti tentang bintang gemintang yang di lihat di langit dikaitkan dengan proses penciptaan manusia. Dapat juga tentang keutamaan sholat berjamaah di masjid yang ganjarannya berlipat-lipat. Atau hal-hal lain, misalnya mendengarkan anak bercerita.

Ketiga, ketika selesai sholat, biasakan memeluk dan mencium keningnya. Hal ini dibarengi dengan menuntun untuk berdoa bersama. Minimal doa untuk orangtua, “robbighfirlii waliwaalidayya warhamhuma kamaa robbayaani shoghiiroo”.

Menanamkan kecintaan anak terhadap masjid sudah seharusnya ditanamkan sejak dini. Ibarat ungkapan, belajar di waktu kecil ibarat melukis di atas batu. Belajar setelah dewasa ibarat melukis di atas air. Pembelajaran dan kebiasaan ke masjid sejak dini akan tertanam hingga dewasa. Kemana pun ia pergi melangkah jauh dari rumah. Bahkan orang yang hatinya terpaut pada masjid menjadi salah satu golongan manusia yang akan mendapat naungan di padang mahsyar kelak.