Ambillah pelajaran dari setiap peristiwa, karena di balik peristiwa tersebut ada hikmah yang terkandung didalamnya. Seperti halnya pertandingan di Liga Champion malam tadi yang mempertemukan Liverpool menghadapi Barcelona di leg kedua.

Berbekal kemenangan 3 – 0 di kandang, Barcelona datang dengan rasa percaya diri yang tinggi ke Anfield. Kita, semua, dalam politik, bisnis, pekerjaan atau pun dalam kehidupan sehari-hari, dapat belajar pada semangat pasukan Juergen Klopp ini.

Tidak ada kemenangan sebelum peluit akhir
Memulai pertandingan dengan defisit tiga gol dalam pertandingan sekelas Liga Champion bukanlah hal mudah. Mungkin banyak suporter The Reds yang sudah mulai pesimis untuk mengejar ketinggalan tiga gol dan memilih mengibarkan bendera putih. Namun nyatanya tidak. Para pendukung setia Liverpool seolah ingin menunjukkan jargon mereka kepada dunia, You’ll Never Walk Alone. Kalian tidak berjuang sendirian di lapangan!

Gol pertama Divock Origi di menit ketujuh membuka asa itu. Tapi masih jauh. Hingga akhirnya strategi pergantian pemain yang brilian dari seorang Juergon Klopp mengundang Dewi Fortuna untuk kelolosan Liverpool ke fase final.

Pergantian pemain Andrew Robertson oleh Georginio Wijnaldum saat memasuki babak kedua berbuah manis. Tak perlu lama bagi seorang Wijnaldum untuk mencetak gol di menit 54 untuk mengejar defisit gol. Dan klimaksnya justru terasa pada saat gol kedua pemain internasional asal Belanda itu pada menit ke-56. Publik Anfield bergemuruh untuk skor 3 – 0 (agregat 3 – 3).

Setelah itu, lapangan hijau milik Liverpool dan mengamankan tiket ke final di Wanda Metropolitano, Madrid pada 1 Juni nanti dengan mengunci kemenangan melalui gol kedua Divock Origi yang mengubah skor menjadi 4 – 3 untuk Liverpool.

Kemenangan baru ditentukan ketika peluit akhir dibunyikan oleh pengadil lapangan. Sebelum itu, perjuangan tetap dilakukan dengan sepenuh jiwa. Tidak ada kata menyerah hingga kemenangan ada dalam genggaman.

Tidak ada yang mustahil
Serangan yang mematikan untuk sebuah perjuangan adalah ketika psikis sudah terganggu oleh sindrom kekalahan dan ketidakmungkinan. Efek rusak pikiran tersebut sangat dahsyat sehingga mental kita menjadi runtuh, bahkan luluh lantak. Oleh karenanya, dalam strategi peperangan, psy war itu menjadi elemen penting untuk memenangkan pertarungan. Dan strategi itu sudah lazim di arena olahraga, politik dan pergerakan.

Banyak kisah-kisah sejarah yang mengajarkan kepada kita, bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Bagaimana mungkin pasukan Rasulullah dalam peperangan Badar bisa mengalahkan musuh dengan jumlah yang jauh lebih banyak. Tentara Muslim kalah jumlah dari pasukan Quraisy, dengan rasio 1: 3. Kaum Muslimin hanya berjumlah 313 sementara kaum Quraisy memiliki lebih dari 950 orang.

Bahkan Allah SWT mengabadikan perang Badar ini dalam Al Quran. “Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya. (QS 3: 123)

Bagi kita semua yang saat ini sedang berjuang, dalam bidang apapun. Mari memetik pelajaran dari kisah-kisah tersebut. Bahwa kewajiban kita adalah berjuang melalui ikhtiar maksimal, setelah itu kita berdoa dan bertawakal atas hasil terbaiknya. Tetap semangat. (subang, 8 Mei 2019)