Pagi masih gelap, jarum jam tangan tepat menunjuk ke angka tiga dinihari. Adzan awal sayup terdengar dari kejauhan. Setelah berpamitan, cus kendaraan yang kami tumpangi melaju menyusuri kegelapan dinihari.

Jalur balik yang akan kami tempuh melalui rute Jahim lagi. Kepadatan kendaraan terasa di jalur Ciamis – Tasikmalaya. Setelah berbelok ke kanan menuju Panumbangan, jalan lancar jaya. Naik ke puncak perbukitan di daerah Sukamantri, jalan menanjak dan berkelok menyambut kami. Sesekali kabut tipis terhampar dihadapan.

Adzan Subuh terdengar ketika memasuki Cikijing. Kami pun rehat subuh di sebuah masjid yang terlihat cantik dengan taburan cahaya lampu. Lokasinya tidak jauh dari pertigaan Cikijing. Masjid besar kedua di sebelah kanan jalan raya. Angin di luar berhembus cukup kencang seiring udara dingin yang meresap ke seluruh tubuh. Saya cek, suhu pagi itu 18 derajat.

Di bagian depan tertulis Masjid Umum Al Aatiin. Bangunannya megah walaupun tidak terlalu besar. Memiliki empat menara di setiap sudutnya, bagian tengah nampak kokoh sebuah kubah besar. Bagian depan memiliki area parkir yang cukup luas. Nampak running text berwarna merah bertuliskan “Welcome to Rest Area Masjid Al Aatiin Cikijing Majalengka”.

Masuk ke bagian dalam, dinding bernuansa hijau dan kuning nampak asri. Tempat imam diapit oleh dua tulisan kaligrafi besar Allah dan Muhammad. Karpet tebal berwarna merah terhampar dalam beberapa shaf. Empuk dan adem ketika kening beradu saat sujud.

Ada hal yang menarik perhatian saya pada saat hendak berwudlu, antara batas suci teras dengan tempat wudlu keluar titik-titik air untuk membersihkan kaki. Biasanya yang kita temui berupa genangan. Tempat wudlu dan toilet juga bersih dan terawat.

Iseng, saya menengok ke bagian belakang. Terdapat kolam ikan yang dikeliling oleh bagunan berupa ruangan-ruangan. Ikan emas berwarna warni nampak mengerubuti air pancuran yang jatuh ke kolam. Rupanya, di bagian belakang ini juga ada kantin. Namun karena saat saya tiba subuh, kantin belum buka.

Menurut cerita petugas parkir, masjid tersebut milik Haji Tatang asal Tasikmalaya. Dan kalau saya amati, masjid ini memiliki konsep yang jelas, memberikan kenyamanan optimal untuk jamaah yang transit di masjid ini.

Setelah selesai, kami pun melanjutkan perjalanan menuruni Talaga, Maja, Jatiwangi hingga masuk pintu tol Sumberjaya yang ada di Km. 174 Tol Cipali. Pada saat masuk tol, sedang diberlakukan One Way. Kedua jalur mengarah ke Jakarta.

Sempat terlihat insiden kecelakaan di Km 170an, kendaraan yang berpindah lajur terhantam bagian sampingnya. Walau tidak terlalu parah, insiden ini cukup membuat kemacetan di jalur sebelah. Seperti biasa, bukan karena insidennya yang membuat macet, tapi pengendara lain yang memperlambat laju kendaraannya untuk melihat karena penasaran.

Akhirnya, tepat pukul delapan pagi keluar pintu toll Subang. Alhamdulillah perjalanan lima jam, lebih cepat dari pada saat mudik yang memakan waktu sembilan jam.