“Bekerja dimana, Pak?” tanya seorang Bapak suatu ketika.
“Di Dahana, perusahaan bahan peledak,” jawab saya.
“Wah, bahan peledak. Serem dong, ya?” tanyanya seolah tak percaya dengan mata sedikit membelalak.

Pertanyaan dan respon seperti itu sudah sangat sering saya alami. Ketika mendengar kata bahan peledak, langsung terasosiasi dengan hal-hal yang menyeramkan. Padahal, dibalik image seram tersebut, bahan peledak memiliki peran penting dalam pembangunan. Apa saja?

Tambang batubara, emas, semen, batuan dan tambang-tambang lainnya, dalam skala besar menggunakan teknologi peledakan. Belum lagi untuk meratakan bukit untuk akses jalan tola tau pembangkit listrik, atau pendalaman pelabuhan dan penghancuran Gedung yang sudah tidak dipakai. Dan banyak lagi aplikasi peledakan dalam mendukung pembangunan.

Peledakan adalah salah satu cara yang paling efektif untuk menguraikan batuan dari batuan induknya. Dengan peledakan yang sempurna maka produktivitas alat muat dan alat angkut akan meningkat, yang pada akhirnya akan menekan biaya penambangan secara keseluruhan.

Coba bayangkan jika tambang batubara yang luasnya berhektar-hektar harus dibongkar dengan excavator? Pasti jatuhnya lama dan mahal. Teknologi peledakan hadir memberikan solusi sehingga lebih cepat dan efisien.

Kegiatan peledakan sendiri meliputi beberapa tahapan seperti proses pengeboran, proses pengambilan dan pengembalian bahan peledak di gudang bahan peledak, proses pengisian dan penutupan lubang tembak, perangkaian dan pengecekan akhir rangkaian, dan peledakan dan pengecekan pasca ledakan.

Pada dasarnya, peledakan merupakan pekerjaan yang sangat presisi atau terukur, hal itu terlihat dari cara dan pola pengeboran, jumlah isian bahan peledak dan sistem penyalaan isian. Setidaknya, ada tiga pola pengeboran: Pola Squared atau pola kubus, Rectanguler atau persegi Panjang, dan Pola stagered atau pola zig-zag. Nah, berdasarkan pengalaman team di lapangan, pola stagered atau zig-zag terbukti memberikan hasil yang lebih baik.

O, ya. Perlakuan terhadap bahan peledak sangat rigid dan ketat, baik di pabrik, perjalanan hingga pemakaian di lapangan. Gudang bahan peledak dibangun khusus dimana gudang tersebut dilengkapi dengan pagar kawat, hydrant, tanggul, penangkal petir, thermometer dan penjagaan. Gudang bahan peledak ini terdiri atas 3 macam gudang yaitu : Gudang Detonator, Gudang Dinamit dan Gudang Bahan Ramuan. Ups, ramuan, yang jelas bukan ramuan madura.

Masih ada On Site Plant, sebagai fasilitas produksi bahan peledak yang berada langsung di lokasi tambang dan Mobile ManufacuringTruck (MMT) yang akan membawa ‘ramuan’ ke lokasi peledakan.

Jangan khawatir, pintu gudang bahan peledak dilengkapi dengan tiga buah kunci, dimana masing masing kunci dipegang oleh petugas gudang, polisi, dan security. Mengingat bahan peledak merupakan bahan yang berbahaya dan dapat menimbulkan salah penggunaan maka pengambilan atau pengembalian harus benar dan teliti, serta harus disaksikan oleh polisi, petugas gudang dan security.

Setelah urusan dengan bahan peledak di Gudang beres, selanjutnya proses pengisian lubang tembak atau down the hole. Melakukan priming, priming adalah pekerjaan pemasangan detonator atau detonating cord ke dalam dinamit/booster. Selanjutnya Primer yang sudah siap dimasukkan ke dalam lubang tembak. Pengisian dengan menggunakan emulsion matriks dilakukan dengan cara memompakan emulsion matrix menggunakan mobile manufacturing truck (MMT). Setelah itu proses selanjutnya adalah menutup lubang tembak dengan agregat atau cutting bor kegiatan ini disebut stemming.

Setelah semua lubang dilakukan stemming maka selanjutnya dapat dilakukan perangkaian atau tie-up antar lubang ledak, kegiatan ini dilakukan dengan sangat teliti dan hati- hati.

Tahapan yang paling menegangkan pun tiba, yaitu melakukan peledakan dan final check. Proses pelaksanaan peledakan diawali dengan meeting kecil yang beranggotakan petugas DAHANA, petugas kontraktor dan petugas dari pemilik konsesi. Meeting ini dilakukan untuk memastikan semua lokasi harus aman dan bersih dari alat dan manusia dimana radius 300 meter dari peledakan adalah jarak aman untuk alat, radius jarak 500 meter adalah jarak aman untuk manusia.

Setelah semuanya aman maka dilanjutkan dengan kegiatan peledakan dengan terlebih dahulu membunyikan sirine sebanyak 3 kali dan dilanjutkan dengan penghitungan mundur. Setelah peledakan dilakukan selanjutnya dilakukan pengecekan pasca peledakan yang bertujuan untuk memastikan seluruh rangkaian telah meledak sempurna dan tidak ada missfire. Setelah pengecekan dan dinyatakan aman maka seluruh kegiatan peledakan dianggap telah selesai.

Kurang lebih seperti itu proses peledakan di tambang. Dan harus diingat, bahan peledak tidak dijual bebas atau untuk perorangan. Seluruh proses terkait bahan peledak harus memiliki izin dari kepolisian dan Lembaga terkait lainnya. So, bahan peledak ngga serem-serem amat, kan? Malah membantu untuk pembangunan. Kalau mau tahu lebih jauh lagi, bisa klik www.dahana.id ya.