Saya cukup terkejut dengan respon peluncuran Majalah BUNGKUSAN besutan AN POWER POLBAN beberapa waktu lalu. Respon positif berdatangan baik dari alumni, mahasiswa hingga dosen. Antusiasme juga nampak dari statistik di media sosial ketika mengangkat topik BUNGKUSAN. Saat ini bola kembali ke pengurus, apakah dapat mempertahankan momentum ini dengan baik atau tidak.

Saya mencoba selalu berbaik sangka ketika ada yang belum berkenan bergabung di wadah alumni ini. Mungkin hanya masalah waktu, prioritas dan kesempatan saja. Yang saya pahami, ketika berurusan dengan almamater modal kita adalah kepedulian dengan prinsip saling melengkapi. Yang luang waktu dan kesempatan maju, yang memiliki kepadatan menepi dulu untuk membereskan urusannya. Begitulah, bergantian sehingga semuanya dapat berjalan saling melengkapi.

Maka langkah strategis selanjutnya adalah bagaimana anggota mendapatkan manfaat ketika bergabung. Salah satu caranya adalah dengan mengelola group supaya tetap sehat dengan pengaturan jadwal berniaga dan diskusi. Selain itu, kontinuitas informasi kegiatan melalui kanal website dan medsos secara ketat terbaharui setiap hari. Lalu, terus mengompori organ organisasi supaya bergerak sesuai bidangnya.

PR berikutnya (dari segudang PR yang telah menanti) adalah bagaimana organisasi bisa lebih mandiri dari sisi finansial tanpa memberatkan anggota. Di sinilah dituntut kreativitas tingkat tinggi pengurus di tengah waktu sisa kesibukan utamanya. Kini, Majalah BUNGKUSAN telah membuka iklan. Memang masih jauh dari kata memuaskan. Setidaknya langkah pertama telah dimulai untuk menjadi mandiri.