Acara pernikahan tentunya menjadi peristiwa spesial nan sakral bagi kedua mempelai dan keluarga. Namun apa jadinya jika sebuah acara pernikahan diwarnai dengan perkelahian? Dua orang jawara beradu ketangkasan memamerkan jurus-jurus silatnya. Ups, ternyata itu hanya sebuah atraksi kesenian sebagai pembuka acara pernikahan di Betawi yang umum dikenal dengan Palang Pintu.

Palang Pintu merupakan tradisi yang menjadi bagian dari upacara pernikahan masyarakat Betawi. Tradisi palang pintu menyimbolkan ujian yang harus dilalui mempelai laki-laki untuk meminang pihak perempuan. Jawara dari daerah asal laki-laki harus bisa mengalahkan jawara yang berasal dari daerah tempat tinggal perempuan.

Tidak ketinggalan ada roti buaya sebagai seserahan kepada mempelai perempuan yang menandakan mempelai laki-laki telah siap menikah. Kenapa buaya? karena melambangkan filosofi kesetiaan dimana buaya tidak akan menikah lagi meskipun pasangannya mati. Sementara roti pada zaman dahulu bagi orang Betawi, merupakan makanan yang paling mewah yang biasanya dikonsumsi hanya oleh orang Belanda.

Dalam perkembangannya, palang pintu dapat dipakai pada acara resmi seperti penyambutan tamu negara atau tamu khusus yang berguna sebagai penggiring tamu dalam memasuki acara tersebut. Seperti pada beberapa tahun silam, bermodalkan suka berpantun, bersama Bos Humas Pegadaian dipercaya untuk menjadi pemandu acara palang pintu dalam pembukaan Porseni BUMN. Jawara yang tampil bukan jawara sembarangan, seorang deputi melawan dirut salah satu BUMN. Silatnya betulan, bukan kaleng-kaleng sehingga membuat Bu Menteri saat itu sempat terpukau.