Sedikit tergelitik ketika mendapati pernyataan bahwa sains lebih hebat dari seni (art). Padahal mereka berasal dari dua kutub berbeda yang memiliki keunikan masing-masing. Rasanya, tidaklah menjadi bijak untuk kemudian ada klaim salah satunya lebih hebat.

Namun memang, kenyataannya cara pandang sebagian besar orang, terutama di dunia pendidikan, melihat sains sebagai ilmu eksak sedangkan yang lainnya tidak sehingga cenderung dinomorduakan. Menurut para pakar sendiri, sains dan art sama-sama berkontribusi dalam membangun sebuah peradaban. Keduanya berlandaskan proses yang sama melalui pengembangan daya, kreativitas, imajinasi dan kemampuan sintesis. Dalam praktek di dunia kerja, keduanya pun hadir saling melengkapi satu sama lain.

Mempertajam dikotomi antara sains dan seni adalah sesuatu yang kurang bijak. Banyak orang terkenal di dunia yang memiliki kedua bakat itu secara bersamaan. Buang jauh-jauh ego dengan belajar dari ilmu padi.

Ilmu padi merupakan sebuah ungkapan tentang suatu pandangan filosofi hidup pada masyarakat Asia Tenggara, yang diilhami dari perkembangan bulir padi sejak berbunga hingga bernas bulirnya. “Bagaikan padi, semakin masak semakin merunduk.”

Makna dari ungkapan ini adalah manusia tidak layak untuk bersikap angkuh atau sombong karena usia atau kemampuan yang dimilikinya. Masyarakat akan memandang baik seseorang apabila semakin tinggi usia, atau semakin tinggi kemampuannya, ia semakin merendahkan hatinya.