Kalau mendengar atau membaca kata arsip, yang ada dibenak langsung yang terbayang tumpukan kertas dengan kesan jadul. Arsip sendiri memiliki makna catatan rekaman kegiatan atau sumber informasi dengan berbagai macam bentuk yang dibuat oleh lembaga, organisasi maupun perseorangan dalam rangka pelaksanaan kegiatan. Dalam perkembangannya, teknis penyimpanan arsip sudah mengalami kemajuan ke bentuk digital yang lebih aman dan mudah diakses.

Ngomong-ngomong masalah arsip ini, ada pengalaman yang sampai saat ini membuat geregetan. File dalam bentuk dokumen, video, maupun gambar dengan usia penyimpanan hampir 12 tahun tetiba tidak tertolong karena perangkat hard disk eksternalnya rusak. Telah diupayakan ke jasa ‘pertolongan hard disk’ rusak, namun data yang terselamatkan tetap minim. Alhasil kembali mengumpulkan kembali file-file yang berserakan di flash disk, CD maupun email supaya tersusun rapi kembali.

Nah, di dunia kerja pun saya tidak jauh dari kearsipan karena membawahi bidang administrasi. Beberapa waktu lalu, kami mendapatkan kunjungan dari Tim Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) yang dipimpin oleh Plt. Ketua ANRI. Kami brainstorming tentang pengelolaan arsip, mulai arsip negara hingga aplikasi di perusahaan.

Selain alasan dokumentasi secara legal, arsip juga memegang peranan sebagai penyambung sejarah. Baik secara individu tokoh maupun organisasi. Ia sebuah legacy, warisan yang berupa nilai-nilai kehidupan yang dapat menjadi suri teladan bagi orang yang ditinggalkan. Di sisi lain, ada pula yang mengatakan sesuatu yang ingin orang lain mengingat apa yang telah kita lakukan untuk kebaikan bagi perusahaan tempat kita bekerja atau negara tempat kita tinggal.