Suara dari pengeras suara di dalam Batik Air nyaring terdengar. Permintaan maaf karena layanan hiburan televisi di kursi penumpang sedang mengalami gangguan. Kondisi ini melengkapi delay keberangkatan sebelumnya dari Samarinda ke Halim Perdana Kusumah.

Akhirnya saya buka tablet dan mencari beberapa video sekedar untuk mengisi penat perjalanan. Jari ini akhirnya menyentuh video jadul konser Iwan Fals di Ponpes Roudloh Al Tohiriyah Kajen Margoyoso Pati dalam acara 100 Gusdur bersama Iwan Fals dan Ki Ageng Ganjur.

Lagu yang dinyanyikan dengan judul Sebrang di Sebuah Istana. Perpaduan gitar dan bonang menambah kuat ruh lagu kritik sosial ini. Menggambarkan sebuah ironi yang nampak dihadapan kita. Bahkan hingga saat ini.

Menarik waktu ke belakang, tepatnya zaman sekolah menengah atas di Kota Serang, Banten. Saya salah satu penggemar berat Iwan Fals. Selain mendengarkan melalui radio yang menyajikan secara khusus lagu Iwan Fals pada hari tertentu, beberapa kali juga melihat langsung konsernya.

Yang saya ingat, di Parkir Timur Senayan menjelang reformasi 98. Menyengajakan dengan seorang sahabat, naik kereta pengangkut batubara duduk di sambungan antar gerbong menempuh rute Stasiun Serang – Pondokranji. Waktu itu Iwan Fals konser bersama Kantata.

Lagu dengan tema kritik sosial sangat saya sukai. Seperti Sebrang Sebuah Istana, Bongkar, Wakil Rakyat dan lainnya.
Atau potret fenomena sosial yang dengan cantik dikemas dalam lagu seperti Pengobral Dosa. Namun belakangan, seiring dengan bertambahnya usia, sentuhan tema seperti itu saya rasa mulai pudar. Jadilah tema cinta lebih mengemuka dalam lagu-lagu terakhir ini.

Saya pun jadi teringat ungkapan dari seorang kawan, kita akan tiba pada masanya nanti. Menjadi lebih tua, menjadi lebih bijak dan mungkin menjadi lebih banyak pertimbangan untuk tidak mengatakan menjadi lebih penakut. Yang terakhir ini rasanya lebih cocok buat saya, hehe.

Dan hingga usia saya yang menginjak kepala empat, rasanya belum ada yang menggantikan posisi Iwan Fals. Oleh karenanya saya rindu Iwan Fals yang dulu. Atau berharap lahir Iwan Fals lainnya. Karena banyak yang bisa disuarakan saat ini. Setidaknya melalui sebuah lagu sebagai ungkapan keprihatinan untuk negeri ini.

Sayup terdengar lagu Manusia Setengah Dewa. Semakin sayup hingga hilang tidak terdengar lagi. Rupanya saya tertidur dan terbangun lagi ketika tiba-tiba mendengar pertanyaan diplomatis, “Mohon maaf Bapak, pilihannya hanya ada nasi ayam fillet bumbu woku, yang cabe hijaunya sudah habis? Sambil membetulkan letak kacamata yang melorot ke ujung hidung saya menjawab, “Baiklah, tidak apa-apa.”