Ibarat sinar mentari
Begitulah kasih ibu
Sepanjang zaman tak akan terbalas
Teruntai begitu indahnya

Diusia yang telah senja
Kau berkenan memanggilnya
Aku rela dlaam ridhoMu
Tawakalku padaMu

Dua bait penggalan nasyid dari Suara Persaudaraan di atas begitu lekat dalam ingatan. Terkadang tidak sengaja dengan lirih dilantunkan beriringan dengan doa tatkala rindu yang tiba-tiba menyergap. Memenuhi relung hati.

Emak, begitu biasa saya memanggil mendiang ibu. Di usia 53 tahun, Ia dipanggil keharibaanNya. Saat itu, saya baru saja beberapa bulan bekerja. Sakit menahun yang dideritanya akhirnya pupus seiring kepergiannya dari dunia.

Salah satu kebahagiaan saya waktu itu, diakhir hayatnya dapat membersamainya sekitar sebulan. Sempat dirawat di RS Jasa Kartini Tasikmalya selama lima hari, akhirnya dokter memperbolehkan pulang. Sengaja langsung titirah ke rumah leluhur, rumah kelahirannya di Cikoneng. Selang beberapa hari kemudian, petang menjelang magrib emak menghembuskan napas terakhir setelah sebelumnya riang bercengkrama dengan saudara-saudaranya mengenang masa kecil.

Hari ini, saya menjumpai pusaranya yang terletak di belakang rumah. Area pemakaman keluarga, tidak terlalu luas dan terhalang oleh kolam ikan. Kesempatan mudik inilah sebagai salah satu mengamalkan sunah berbakti kepada orang tua yang telah meninggal. Mendoakannya dan tetap menyambung tali silaturahim.

“Wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, adakah tersisa perbuatan bakti kepada orang tua yang masih bisa saya lakukan sepeninggal mereka ? Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : ‘Berdoa untuk mereka, memohonkan ampunan, melaksanakan janji mereka, menyambung tali silaturahim yang hanya terhubung melalui mereka serta memuliakan teman-teman mereka‘” (HR. Ahmad 3/279, Bukhari dalam kitab “Adabul Mufrad”, Abu Daud no. 5142)

Kasihilah dia disana
Di dalam kesendiriannya
Lapangkanlah alam kuburnya
Terangilah dengan cahyamu

Duhai Robbi ampunkan dia
Sejahterakan dengan nikmatmu
Yang tak pudar ditelan masa
Ijinkanlah kami meminta

Dua bait akhir nasyid Suara Persaudaraan itu mengiringi langkahku. Sejenak terhenti, menoleh ke makam, kemudian tertunduk dalam langkah-langkah gontai menjauh.