Bertemu bulan Juli selalu membawa kesan tersendiri. Setidaknya ada dua peristiwa istimewa di bulan ini bagi saya. Layaknya martabak spesial pake telor. Yang pertama ulang tahun kelahiran dan ulang tahun pernikahan.

Seperti hari ini, 2 Juli 2019, usia pernikahan kami genap 13 tahun. Bukan waktu yang pendek mengarungi kebersamaan dalam bingkai keluarga. Hingga Allah SWT mengaruniai tiga buah hati untuk kami.

Moment ulang tahun pernikahan mengingatkan saya kembali akan beberapa hal. Pertama, blog undangan pernikahan yang hingga hari ini bisa diakses beralamat di https://oliedsfitria.blogspot.com. Di situ ada artikel-artikel tentang pernikahan dan keluarga yang dapat menyegarkan kembali ingatan kita tentang hakekat pernikahan dan keluarga. Saya suka senyum-senyum sendiri kalau membacanya kembali.

Kedua, hadiah hafalan Surat Ar Rohman pada saat akad. Sebenarnya waktu itu agak nekad juga menghadiahkan hafalan surat ke-55 dalam Al Quran ini. Maklum, selain suratnya agak panjang, ‘tekanan’ yang hadir akan membuat grogi dan membuyarkan konsentrasi mempelai. Untungnya selamat hingga ayat terakhir.

Ketiga, tentang jodoh. Kami dipersatukan dalam persamaan dan perbedaan. Sama-sama hobby buku dan aktif menjadi blogger waktu itu. Dan yang paling penting tentunya perbedaannya, yaitu berbeda jenis kelamin😊.

Saya pun teringat dengan beberapa paragrap tulisan di tahun 2000an. Sebuah dialog visioner antara sepasang mempelai.

“Aku tidak mempunyai apa-apa yang patut dibanggakan. Tapi aku punya tanggung jawab untuk tidak menyia-nyiakanmu. Aku menghitung ini semua sebagai investasi akheratku di hadapan Allah. Ingatlah kita sedang membangun peradaban. Kita mengemban misi dakwah dengan pernikahan ini,” ungkap mempelai pria menatap dalam mata isterinya.

“Aku tidak memilihmu karena apa-apa, aku hanya yakin engkau dapat membawaku kepada Allah. Aku berdo’a mampu memberikan semua yang kau butuhkan untuk investasi itu. Aku tidak ingin mengulang kesalahan zaman, melahirkan anak-anak yang kering dengan kasih sayang dan kesibukanku untuk mereka. Jika mereka menjadi pelajar cukuplah, tak perlu sekaligus menjadi preman. Tak perlu ada hobi tawuran dalam dirinya.” Jawab mempelai wanita sembari menunduk, mempermainkan cincin perkawinannya.

Dan hari ini, kami diingatkan kembali tentang janji sewaktu akad. Sebuah pernikahan di bangun dalam sebuah ikatan yang suci. Ia tidak hanya sekedar menyatukan dua insan yang berbeda, tapi juga menyatukan dua keluarga besar yang berbeda kultur dan budaya. Lebih dari cinta yang terkadang semu dan lekang oleh waktu, tapi ikatan itu begitu erat. Allah menyebut pernikahan dengan Mitsaqan Gholidzo, Perjanjian yang kuat, perjanjian yang agung.

Di hari ini pula kami serasa disindir kembali dengan ayat di Surat Ar Rohman. ‘Fabiayyi ‘aala’i Rabbikumaa Tukadzdzibaan” yang diulang 31 kali yang berarti “Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kau dustakan”.

Bersyukur, bersyukur dan bersyukur. Itulah pengingatnya. Teriring ucapan terima kasih untuk belahan jiwa yang telah membersamai dalam suka dan duka. Jalan masih panjang dengan onak dan durinya. Dan hanya kepada Allah semata berserah diri dan memohon pertolongan.