Pernahkah Sobat membuka rak dapur, lalu mendapati barisan toples bekas kue Lebaran yang usianya sudah lima tahun? Tutupnya entah ke mana, bahkan ada yang sudah berdebu. Di laci bawah, plastik belanjaan dan kardus kosong bertumpuk tak beraturan, menjadi rumah bagi kecoa dan semut.
Sobat ingin membereskan, tapi selalu muncul pikiran: “Nanti saja, siapa tahu berguna suatu saat…”
Jika situasi ini terasa akrab, Sobat mungkin sedang mengalami tanda-tanda hoarding disorder, sebuah kondisi psikologis yang kerap tak disadari.
Bayangkan setiap kali ingin beres-beres rumah, Sobat malah berhenti di tengah jalan. Kardus bekas TV zaman dulu masih Sobat simpan, kaus yang sudah tiga tahun tak dipakai tetap bertahan di lemari, bahkan kabel charger HP model lama pun Sobat anggap masih “bernilai.” Lama-lama, rumah penuh dengan benda-benda yang sebenarnya tidak lagi punya fungsi. Bukan hanya mengganggu estetika, tetapi juga memicu stres dan rasa sesak.
Gejala Hoarding Disorder
Hoarding disorder bukan sekadar malas membereskan rumah. Ini adalah gangguan di mana seseorang:
1. Sulit membuang barang, meskipun sudah tidak diperlukan.
2. Merasa cemas atau tidak tenang saat membayangkan barang tersebut dibuang.
3. Menyimpan benda-benda tanpa nilai nyata, seperti koran lama, kantong plastik, atau botol kosong.
4. Mengalami penumpukan barang yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
5. Sering menunda keputusan, dengan alasan “nanti juga kepakai.”
Mengapa Bisa Terjadi?
Beberapa penyebab umum antara lain:
• Ketakutan akan penyesalan di masa depan, merasa barang itu suatu hari akan berguna.
• Faktor emosional atau kenangan, sulit melepas karena merasa terkait dengan memori tertentu.
• Kurangnya keterampilan mengatur rumah atau barang.
• Pengalaman masa lalu, seperti pernah hidup dalam kekurangan sehingga takut kehilangan.
• Kondisi psikologis lain, seperti kecemasan atau depresi yang tak ditangani.
Bagaimana Mengatasinya?
1. Mulai dari yang kecil. Pilih satu sudut rumah, misalnya rak dapur, lalu sisihkan 15–20 menit setiap hari untuk membereskan.
2. Gunakan metode 4 kotak: Buang, Sumbang, Simpan, dan Pertimbangkan. Barang yang jarang terpakai masuk kotak “Sumbang” atau “Buang”.
3. Berikan batas waktu untuk keputusan. Jika dalam 6 bulan tak terpakai, relakan.
4. Cari dukungan. Libatkan anggota keluarga agar proses tidak terasa berat.
5. Latih mindset: rumah adalah ruang hidup, bukan gudang kenangan.
6. Jika sudah mengganggu aktivitas dan emosional, pertimbangkan bantuan profesional, seperti psikolog atau konselor.
Hidup Lebih Efektif dengan Ruang Lebih Lega
Setiap benda yang Sobat simpan tanpa fungsi sejatinya mengambil ruang bagi hal yang lebih bermanfaat. Melepas barang lama bukan berarti menghapus kenangan, tetapi memberi kesempatan bagi hidup yang lebih rapi, sehat, dan lega.
Coba mulai hari ini: buka satu laci, ambil satu toples, dan tanyakan pada diri sendiri, “Apakah ini sungguh memberi nilai, atau hanya jadi beban diam-diam?”