Saya mulai akrab dengan kopi sejak dunia kerja menuntut kewaspadaan yang tak kenal jam. Awalnya tak ada mazhab, tak ada idealisme. Kopi adalah apa saja yang tersedia: kopi saset dengan gula, krimer, moka, vanila, dan nama-nama lain yang lebih terdengar seperti permen daripada biji kopi. Yang penting melek. Soal rasa, belakangan.

Namun lima tahun terakhir, ada semacam hijrah kecil dalam hidup saya. Perlahan saya meninggalkan kopi berlapis-lapis rasa, menuju satu pilihan yang terasa jujur: kopi hitam tanpa gula. Dari sekian sajian, hot americano menjadi andalan. Americano terasa ringan tapi tegas, hasil pertemuan espresso dan air panas, tidak sekuat espresso, tidak pula seremeh kopi tubruk. Dipilih panas karena di sanalah aromanya hidup; uapnya membawa cerita, bukan sekadar kafein. Kopi panas memberi jeda, memaksa kita menunggu, meniup, menyeruput pelan. Ada disiplin dan kesabaran di situ.

Tentu saja, dalam dunia kopi, setiap orang berhak memilih mazhabnya. Ada americano, V60, espresso, latte, cappuccino, flat white, tubruk, cold brew, hingga manual brew dengan alat-alat yang namanya terdengar seperti laboratorium: aeropress, siphon, chemex, moka pot. Ada yang dingin, ada yang panas. Ada yang cepat, ada yang ritual. Menjadi penikmat kopi yang baik bukan soal paling pahit atau paling mahal, tapi tahu apa yang diminum dan kenapa ia memilihnya.

Dari yang paling mudah, kopi gunting di warung kecil yang diseduh cepat, hingga kopi yang “ribet” dengan timbangan gram, suhu air presisi, dan waktu seduh detik demi detik. Uniknya, kopi mengajarkan paradoks: kalau bisa susah, kenapa dibuat mudah? Karena di balik kerumitan itu ada niat menghormati proses, mengeluarkan karakter terbaik dari biji kopi. Bukan untuk pamer alat, tapi untuk menemukan rasa.

Jika saya boleh memilih, dan saya sudah memilih, maka kopi hitam tanpa gula tetap jadi pegangan. Alasannya sederhana dan ilmiah. Penelitian menunjukkan kopi hitam rendah kalori, kaya antioksidan (seperti polifenol), dapat meningkatkan fokus, dan—bila dikonsumsi wajar—berkaitan dengan penurunan risiko beberapa penyakit metabolik. Tanpa gula, kopi tidak menyamar; ia apa adanya. Seperti hidup, pahitnya jujur.

Tips ngopi, singkat saja:
1. Kenali tujuan: mau melek cepat atau menikmati proses.

2. Mulai dari yang sederhana, naikkan pelan-pelan.

3. Perhatikan air: bersih dan panasnya pas.

4. Jangan buru-buru menilai; lidah perlu belajar.

5. Minum secukupnya—kopi sahabat, bukan penguasa.

Pada akhirnya, toleransi tak hanya urusan agama. Di meja kopi pun ia berlaku. Americano, latte, tubruk, dingin atau panas, semuanya sah. Yang penting saling menghormati pilihan, sambil menyeruput cerita masing-masing.

Salam Seruput Kopi Panas.