Saya kadang memperhatikan satu hal yang tampak sepele, tapi sebenarnya menarik. Ada orang yang hidupnya terlihat sangat sibuk. Jadwalnya padat, tanggung jawabnya banyak, waktunya seperti selalu dikejar-kejar. Anehnya, justru orang seperti inilah yang sering menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Satu amanah beres, lalu beralih ke amanah berikutnya. Rapi. Konsisten.

Di sisi lain, ada juga orang yang tampak santai. Waktunya longgar, tidak terlalu banyak agenda, tidak sedang dikejar target besar. Namun entah mengapa, pekerjaannya sering tertunda. Yang direncanakan hari ini, menunggu besok. Yang mestinya selesai, terus mencari alasan untuk ditunda lagi.

Padahal, jika kita jujur, waktu mereka sama. Dua puluh empat jam dalam sehari semalam. Tidak ada yang mendapat tambahan, tidak ada yang dikurangi. Lalu apa bedanya?

Ternyata, perbedaannya bukan pada jumlah waktu, melainkan pada cara memperlakukan waktu. Orang yang sibuk dan produktif biasanya sadar betul bahwa waktunya terbatas. Karena itu, mereka terpaksa memilih. Mereka membangun kebiasaan, membuat sistem, dan memecah pekerjaan besar menjadi langkah-langkah kecil yang bisa diselesaikan di sela kesibukan. Bukan karena mereka lebih hebat, tetapi karena mereka tidak punya banyak ruang untuk menunda.

Dalam dunia manajemen, ada ungkapan lama yang tetap relevan: jika ingin sesuatu benar-benar beres, serahkan pada orang yang sibuk. Bukan karena orang sibuk punya waktu lebih banyak, melainkan karena mereka terbiasa bekerja dengan prioritas. Prinsip ini sejalan dengan gagasan dalam Atomic Habits, bahwa hasil besar lahir dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten, bukan dari niat besar yang dibiarkan tanpa sistem.

Sebaliknya, waktu luang sering kali menipu. Ia memberi rasa aman palsu: seolah semua bisa dikerjakan nanti. Tanpa disadari, waktu bocor pelan-pelan oleh distraksi, oleh menunggu mood, oleh keinginan menunggu kondisi sempurna. Akhirnya, bukan kelelahan yang kita rasakan, melainkan penyesalan karena banyak hal tak kunjung selesai.

Mungkin itu sebabnya, orang yang produktif bukanlah mereka yang paling sibuk terlihat, melainkan mereka yang paling menghargai waktu. Mereka tidak menunggu siap untuk bergerak, tetapi bergerak agar siap. Mereka tidak mengejar sempurna, tetapi memastikan beres.

Jika kita ingin menjadi “orang sibuk” dalam tanda kutip, alias sibuk yang benar-benar menyelesaikan banyak hal, maka kita bisa mulai dari langkah-langkah sederhana berikut:
Pasang batas waktu untuk setiap pekerjaan, agar fokus tidak melebar ke mana-mana.
Bangun kebiasaan kecil yang realistis dan bisa diulang setiap hari, bukan target besar yang mudah ditinggalkan.
Kerjakan hal terpenting lebih dulu, terutama saat energi dan pikiran masih segar.
Kurangi keputusan-keputusan sepele yang sebenarnya bisa disederhanakan atau dibuat otomatis.
Biasakan menyelesaikan, meski belum sempurna. Beres lebih penting daripada sempurna.
Atur waktu luang dengan sadar, bukan membiarkannya mengalir tanpa arah.

Pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa penuh jadwal kita, tetapi seberapa banyak amanah yang benar-benar selesai dengan baik. Waktu kita sama. Yang membedakan hanyalah siapa yang mengelolanya, dan siapa yang membiarkannya berlalu begitu saja.

Salam Seruput Kopi Panas.