Pagi itu, tangan saya membuka sebuah file penting: Kalender 2026. Ini bukan kalender cetak yang biasanya tergantung, atau Kalender duduk yang menghiasi meja kerja saya. Ini adalah lembar kerja digital, tempat saya memverifikasi tanggal, hari libur, dan semua penanda krusial untuk operasional setahun ke depan. Sebuah rutinitas administratif yang biasanya terasa mekanis, nyaris membosankan.
Namun, ada satu baris yang berhasil menahan mata saya lebih lama, memaksa tombol scroll berhenti.
Di sana, tertulis jelas: Ramadan 2026, ditandai mulai 18 Februari. Tentu, ini hanyalah tanggal perkiraan awal pemerintah yang masih menunggu ketetapan resmi melalui sidang isbat. Tapi, bagi saya, tanggal itu tidak sedang bicara soal akurasi kalender. Ia sedang bicara tentang jarak.
Saya refleks menghitung mundur. Dari hari ini, jaraknya hanya sekitar enam puluh harian. Dua bulan. Sebuah kedipan mata dalam lintasan waktu. Dan entah mengapa, dada terasa sedikit diremas oleh kesadaran sederhana: Ramadan sudah di ambang pintu, padahal rasanya baru kemarin kita selesai mengucap takbir Idulfitri.
Di titik inilah kita kembali menyadari sebuah fakta abadi: Waktu selalu bergerak lebih cepat daripada kesiapan kita.
Ramadan, setiap tahunnya, selalu datang dengan ketepatan yang sempurna. Ia tidak pernah terlambat, tidak pernah menunggu kita siap. Justru kitalah yang sering menyambutnya dengan napas terburu-buru, seperti baru mengingat Al-Qur’an saat malam Tarawih pertama, baru menata niat saat sahur perdana, dan baru memperbaiki diri secara total ketika sepuluh malam terakhir hampir usai.
Padahal, Ramadan bukanlah bulan kejutan. Ia adalah bulan yang selalu diberi penanda. Lewat kalender. Lewat pergantian bulan. Lewat desahan kerinduan di hati orang-orang beriman yang tiba-tiba merasa waktu kian sempit.
Menyebut Ramadan seharusnya bukan sekadar menyebut nama bulan. Para ulama mengajarkan, ada adab bahkan dalam menyebutnya, dengan rasa hormat, kesiapan, dan kerinduan. Karena Ramadan lebih dari sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia adalah proses pulang: pulang kepada kesadaran, pulang kepada disiplin, dan pulang mendekat kepada Allah.
Maka, enam puluh hari ke depan sejatinya bukan “waktu tunggu”. Ia adalah masa persiapan yang penuh makna. Seperti tanah yang harus dibersihkan sebelum ditanami. Seperti hati yang perlu dirapikan dari debu-debu kelalaian sebelum cahaya Ramadan mengisinya.
Ramadan akan terasa berat dan sempit bagi mereka yang datang tanpa persiapan. Dan akan terasa lapang dan ringan bagi mereka yang sudah mulai melangkah dari sekarang. Jika hari ini kita masih diberi waktu dua bulan, itu bukanlah kebetulan biasa. Itu adalah sebuah rahmat berharga yang sering luput kita syukuri.
Sebagai penutup refleksi sambil menyeruput kopi panas siang ini, berikut beberapa hal yang patut mulai kita siapkan, bukan nanti, tapi sekarang:
- Panaskan Niat Jauh-Jauh Hari. Luruskan niat sekarang juga: ingin lebih sungguh-sungguh, bukan sekadar menggugurkan kewajiban. Ini adalah upgrade spiritual, bukan rutinitas.
- Akrabi Kembali Al-Qur’an. Jangan biarkan Al-Qur’an terasa asing di tangan. Sediakan waktu meski hanya satu halaman sehari. Jadikan ia teman akrab sebelum bulan suci tiba.
- Latih Rem Lisan dan Emosi. Puasa sejati dimulai dari pengendalian diri di luar perut. Mulai disiplinkan lisan dari ghibah dan hindari pemicu emosi sejak hari ini.
- Bersihkan ‘Hutang Sosial’. Segera lunasi janji, minta maaf, dan selesaikan masalah dengan sesama. Berangkat ke Ramadan dengan hati yang ringan dan bebas dari ikatan.
- Atur Ulang Jam Biologis Kita. Mulai biasakan tidur lebih awal dan bangun sebelum subuh. Ubah ritme hidup agar Ramadan terasa sebagai anugerah, bukan sekadar gangguan pada jadwal.
- Doa, Doa, dan Perbanyak Doa. Panjatkan doa tulus agar dipertemukan dengan Ramadan dalam kondisi terbaik. Tidak semua yang merencanakan, akan diberi kesempatan.
Kalender cetak tahun depan boleh saja belum nongkrong di meja kita. Tapi, semoga kalender di hati kita sudah mulai memberi tanda. Bahwa Ramadan sedang mendekat. Dan kita punya pilihan: menyambutnya dengan kesiapan yang terencana, atau hanya dengan kebiasaan tahunan.
Salam Seruput Kopi Panas.