Suatu sore, saya membaca tulisan tentang fenomena fatherless—bukan sekadar anak yang kehilangan ayah karena tiada, tetapi karena sang ayah hadir tanpa benar-benar hadir. Tubuhnya di rumah, pikirannya di tempat lain. Sibuk bekerja, lelah mengejar sesuatu yang sering kali tak bisa dipeluk.

Saya termenung lama. Mungkin karena di balik meja kerja, di tengah rapat dan target, saya sering bertanya diam-diam: Apakah anak-anakku merasa aku benar-benar ada untuk mereka?

Mungkin itulah sebabnya saya suka memaksakan diri mengajak mereka jalan-jalan sejak kecil. Bukan karena banyak waktu luang, tapi karena saya tahu: waktu tak bisa diulang.

Suatu hari tubuh ini renta, lutut mulai berdebat dengan tangga, dan anak-anak akan punya dunianya sendiri. Maka sebelum semuanya berlalu, saya ingin punya cukup kenangan, bukan hanya foto, tapi percakapan. Bukan sekadar tawa di perjalanan, tapi kehangatan yang kelak mereka ingat: Ayah pernah ada di sini. Ayah pernah membersamai.

Saya masih ingat masa ketika harus menunggu les renang mereka selesai, berangkat bareng ke masjid dalam gelap dan terang, di bawah taburan bintang gemintang, kadang rintik hujan, atau sekadar menemani beli es krim sepulang sekolah. Hal-hal kecil itu ternyata menjadi benih besar, tentang rasa aman, tentang cinta yang tidak banyak bicara, tapi selalu ada.

Di tengah zaman yang penuh distraksi ini, menjadi ayah bukan hanya soal memberi nafkah, tapi menanam kehadiran. Mengajarkan pemadilian, yaitu bagaimana anak-anak belajar menimbang pilihan, mengenal tanggung jawab, dan memimpin dirinya sendiri. Sebab kita tak akan selalu ada untuk membimbing langkah mereka, tapi kita bisa meninggalkan jejak nilai yang menuntun arah mereka.

Dan di setiap langkah yang kadang turun naik itu, saya bersyukur tak sendirian. Terima kasih untuk istri yang tak lelah mendampingi, yang sering menambal kekurangan saya dengan kesabaran dan ketegasan yang menguatkan, menyeimbangkan rumah dengan kasih, dan membuat perjalanan ini terasa utuh.

Menjadi ayah adalah proses belajar tanpa akhir. Kadang tersandung, sering terlambat menyadari. Tapi setiap kali menatap mata anak-anak, selalu ada alasan untuk memperbaiki diri. Sebab menjadi ayah bukan tentang kesempurnaan, melainkan tentang keberanian untuk terus hadir, meski dunia sering mengajak kita pergi.

Mari kita seruput kopi hari ini pelan-pelan, dan renungkan sejenak: Sebelum waktu memisahkan, sudahkah kita benar-benar membersamai mereka?

Selamat Hari Ayah 💙