Pagi itu, saat menuju ke kantor di belakang kemudi kendaraan, saya menonton sebuah video Youtube dari Ali Abdaal, salah satu narator produktivitas yang sering membahas cara bekerja tanpa terbakar lelah. Ia berkata pelan namun tegas:
“Top performer itu bukan jagonya mengatur waktu. Mereka jagonya mengatur fokus.”
Kalimat itu membuat saya mengernyitkan dahi sejenak. Ternyata selama ini, banyak dari kita bangga dengan padatnya jadwal. Kalender penuh. To-do list panjang. Meeting dari pagi hingga sore. Tetapi saat malam tiba, hati kadang bertanya: Apa yang benar-benar maju hari ini?”
Ali memperkenalkan konsep sederhana namun tajam: kerangka 3-2-1. Saya mencoba mengulang pelajarannya sambil menyeruput kopi panas di jeda istirahat kerja, lalu mengaitkannya dengan kehidupan kita yang kadang terlalu sibuk namun jarang maju.
3 Peran: Maker, Marker, Multiplier
Setiap hari kita sebenarnya memegang tiga peran, hanya saja jarang kita sadari.
1. Maker — saat kita mencipta.
Menulis, membuat strategi, menyiapkan materi training, membuat konten.
Ini adalah waktu “deep work”, saat otak butuh tenang.
2. Marker — saat kita menilai dan memutuskan.
Mengecek laporan, mengambil keputusan HR, meninjau konsep, mengarahkan tim.
3. Multiplier — saat kita memperbesar dampak.
Delegasi, coaching, membuka jalan agar orang lain bisa lebih cepat maju.
Masalahnya, banyak dari kita berpindah peran tanpa ritme. Lagi menulis (Maker), tiba-tiba ada chat masuk, berubah jadi Marker. Lalu ada karyawan minta arahan, berubah lagi jadi Multiplier. Tanpa sadar, energi pecah dan fokus hilang.
Cara menerapkan:
Setiap pagi, sebelum mulai bekerja, tentukan:
Peran utama saya hari ini apa?
Jika hari itu butuh menyelesaikan tulisan penting, jadikan diri sebagai Maker dan matikan gangguan.
Jika hari itu banyak rapat strategis, jadikan diri sebagai Marker.
Jika hari itu penuh arahan dengan tim, jalani sebagai Multiplier.
Dengan menyadarinya, energi tak lagi bocor.
2 Zona Waktu: Peacetime & Wartime
Ali menyebut bahwa hidup selalu bergerak antara dua zona:
• Peacetime — saat segalanya relatif tenang. Kita bisa merencanakan, merapikan, dan membangun pondasi.
• Wartime — saat masalah datang, krisis terjadi, keputusan harus cepat.
Banyak orang gagal karena salah membaca zona.
Dalam kondisi tenang, mereka panik.
Dalam kondisi krisis, mereka sibuk merapikan.
Cara menerapkan:
Di pagi hari, tanya:
“Hari ini Peacetime atau Wartime?”
• Jika Peacetime: fokus pada hal fundamental—membangun sistem, menulis, merancang, memikirkan masa depan.
• Jika Wartime: fokus menyelesaikan masalah terpenting—jangan buka pintu tugas lain sampai yang kritis selesai.
Kesalahan membaca zona membuat banyak orang stres karena merasa “terkejar sesuatu” padahal seharusnya sedang membangun.
1 Hal Non-Negosiasi
Inilah inti filosofinya.
Setiap hari, pilih satu hal yang wajib selesai, apa pun yang terjadi.
Bukan sepuluh.
Bukan lima.
Satu saja.
Satu hal yang kalau selesai, hari itu sudah menang.
Bagi saya, kadang itu menulis satu cerita untuk website.
Kadang membuat keputusan penting di HR.
Kadang menyiapkan materi presentasi.
Kadang membuat satu video Seruput Kopi Panas.
Yang penting: harus selesai.
Cara menerapkan:
Ali menyarankan tiga langkah praktis:
1. Tanyakan: “Apa satu hal yang paling mendorong hidup saya maju hari ini?”
2. Tulis di atas kertas — jangan hanya di kepala.
3. Kerjakan sebelum dunia mulai ramai.
Selesai satu hal itu, energi mental akan meningkat, bukan menurun.
Dalam hidup yang semakin sibuk, kita sering lupa bahwa produktivitas bukan tentang melakukan lebih banyak, tapi melakukan yang tepat. Bukan soal menyusun hari dengan rapat tanpa jeda, tapi menopang hidup dengan fokus yang bernilai.
Mulai besok pagi, sebelum menyeruput kopi panas, tanyakan tiga hal:
Saya hari ini berperan sebagai apa? (Maker/Marker/Multiplier)
Hari ini Peacetime atau Wartime?
Apa satu hal yang wajib selesai?
Jika itu terjawab…
maka sisanya hanyalah detail.
Salam Seruput Kopi Panas