Kita sering berdoa dengan penuh harap, penuh kerendahan hati, penuh keyakinan bahwa Allah mendengar apa yang kita bisikkan dalam sujud. Kita meminta yang terbaik: kesehatan, kelapangan rezeki, hati yang tenang, keluarga yang harmonis, pekerjaan yang berkah.
Namun, di sisi lain, perilaku kita justru berjalan berlawanan dengan doa yang kita panjatkan. Seolah-olah ada jurang antara apa yang kita minta dan apa yang kita lakukan. Tanpa disadari, kita sedang mengkhianati doa kita sendiri.
Saya melihat fenomena ini sering kali muncul dalam hal-hal sederhana, sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya, kita memohon kesehatan, memohon agar kolesterol turun, tekanan darah stabil, dan tubuh diberi kekuatan. Tetapi saat sore tiba, kita duduk santai sambil menikmati gorengan panas, camilan berminyak, dan minuman manis.
Kita tahu tubuh kita protes, tetapi tetap kita suapkan. Lalu saat hasil cek kesehatan keluar, kita terkejut. Padahal, kitalah yang perlahan-lahan mengabaikan ikhtiar terhadap doa yang kita panjatkan.
Ada kata mutiara mengatakan: “Usaha tanpa doa itu sombong, doa tanpa usaha itu sia-sia.”
Dan dalam banyak kasus, kesia-siaan itu bukan karena Allah tidak mengabulkan, tetapi karena kita sendiri yang tidak menjaga keselarasan antara doa dan tindakan.
Contoh lain yang sederhana:
Kita berdoa agar rezeki berkah dan cukup, tetapi kebiasaan kita boros, impulsif, dan suka belanja hal-hal yang tidak kita perlukan. Lalu kita heran mengapa uang selalu terasa kurang.
Kita berdoa agar rumah tangga harmonis, namun lebih sering bermain dengan gawai daripada berkomunikasi dengan pasangan dan anak-anak.
Kita berdoa agar pekerjaan lancar, tapi kita datang terlambat, menunda pekerjaan, atau bekerja sekadarnya.
Kita berdoa ingin naik kelas dalam karier, tetapi enggan belajar, enggan meningkatkan skill, enggan keluar dari zona nyaman.
Ironisnya, kita berdoa untuk hal-hal besar tetapi tidak rela melakukan langkah-langkah kecil yang mendukung doa itu sendiri.
Padahal, doa adalah bentuk pengharapan, sementara tindakan adalah bentuk pembuktian. Allah menilai keduanya: apa yang kita pinta, dan apa yang kita usahakan. Jangan sampai Allah sudah siapkan jalan baik untuk kita, tetapi kita sendiri yang menutup jalan itu dengan kebiasaan buruk yang tidak mau kita ubah.
Lalu, bagaimana agar kita tidak mengkhianati doa-doa kita? Ada beberapa cara sederhana:
1. Samakan niat dan tindakan.
Setiap kali berdoa, tanyakan pada diri sendiri: “Apa langkah kecil yang bisa saya lakukan hari ini agar doa saya selaras dengan perbuatan?” Kalau ingin sehat, mulailah mengurangi gorengan, berjalan kaki, atau tidur lebih awal.
2. Berikan batasan pada kebiasaan yang merusak.
Tidak harus langsung berhenti total, tapi mulailah dari mengurangi. Pengkhianatan doa sering dimulai dari kebiasaan kecil yang kita biarkan.
3. Disiplin pada komitmen yang kita buat.
Komitmen itu bukan untuk orang lain, tetapi untuk diri sendiri dan untuk menghormati doa kita.
4. Ganti “nanti” dengan “sekarang.”
Penundaan adalah musuh dari ikhtiar. Doa perlu disegerakan dengan tindakan nyata, bukan hanya harapan yang melayang.
5. Ingat bahwa Allah melihat kesungguhan, bukan kesempurnaan.
Allah tidak menuntut kita melakukan semuanya sekaligus. Tapi Allah menghargai setiap langkah kecil yang jujur dan konsisten.
Pada akhirnya, doa itu adalah janji kita kepada Allah: janji bahwa kita ingin berubah, ingin memperbaiki diri, ingin hidup lebih baik. Tindakan kitalah yang membuktikan apakah kita menepati janji itu atau justru mengkhianatinya.
Semoga mulai hari ini, kita bisa lebih jujur kepada doa-doa kita, karena doa yang selaras dengan tindakan akan menjadi magnet kebaikan yang mengundang pertolongan Allah.
Jangan mengkhianati doa, karena di balik setiap doa ada harapan besar yang pantas kita perjuangkan.
Salam seruput kopi panas.