Musim liburan akhir tahun telah tiba. Saya jadi teringat perjalanan setahun yang lalu. Liburan akhir tahun 2024 membawa kami kembali menjejak Yogyakarta, kota yang selalu punya cara untuk membuat siapa pun rindu. Rasanya belum benar-benar sampai di Yogya kalau belum mencicipi gudeg, menyusuri Malioboro, atau sekadar menyeruput teh hangat di pagi yang masih basah. Tetapi waktu itu, ada satu tempat yang membuat saya penasaran sejak ramai dibicarakan warganet: Geblek Pari.

Nama itu unik. Sederhana, namun menggelitik rasa ingin tahu. “Geblek” adalah makanan khas Kulon Progo dari singkong yang digoreng dan bentuknya menyerupai angka delapan, gurih, kenyal, dan sangat merakyat. Sedangkan “Pari” berarti padi dalam bahasa Jawa.

Maka “Geblek Pari” adalah gambaran pedesaan: kudapan rumahan yang disantap di tengah hamparan sawah. Nama yang tidak hanya menjadi identitas kuliner, tetapi juga filosofi kesederhanaan masyarakat Menoreh, tentang hidup yang cukup, bersahaja, dan dekat dengan alam.

Dengan rasa penasaran itu, kami pun sepakat: Mari kita cari tahu apa yang membuat tempat ini begitu istimewa.

Perjalanan ke Barat: Dari Kota Gudeg Menuju Tanah Tenang
Pagi itu matahari Yogyakarta bersinar lembut. Kami meninggalkan pusat kota dan memulai perjalanan ke arah barat, menuju Godean, lalu naik ke wilayah Kulon Progo. Jalanan mulai menyempit, sawah menghijau di kiri kanan, dan udara berubah menjadi lebih sejuk seiring perjalanan mendekati Perbukitan Menoreh.

Perjalanan sekitar 45–60 menit, tetapi rasanya jauh lebih singkat. Ada sesuatu yang menenangkan ketika memasuki pedesaan dengan rumah-rumah sederhana, petani yang berjalan membawa cangkul, dan aroma tanah yang hangat.

“Kayaknya bentar lagi sampai,” kata anak saya sambil melihat peta di ponsel.

Dan benar saja, tak lama, papan kayu bertuliskan Geblek Pari muncul di persimpangan. Kami pun memutar perlahan, memasuki kawasan wisata yang sudah dipenuhi pengunjung menjelang siang.

Siang yang Ramai: Suasana yang Membuat Kami Lupa Waktu
Di area parkir, puluhan mobil sudah berjajar rapi. Orang datang silih berganti, sebagian menenteng piring seng, sebagian lagi sibuk berfoto dengan latar sawah yang luas. Setelah turun, suasana langsung terasa lain, lebih hangat, lebih hidup.

Kompleks bangunan di Geblek Pari terbuat dari kayu dan bambu. Joglo-joglo sederhana berdiri di beberapa titik, sebagian dipakai untuk makan, sebagian lagi untuk memamerkan aktivitas wisata seperti membatik. Nuansanya bukan wisata modern yang serba rapi, tetapi justru cair, natural, seperti main ke rumah saudara di desa.

Angin membawa aroma masakan pedesaan yang menggugah. Dari dapur semi-terbuka, terlihat ibu-ibu memasak di atas tungku, dengan panci aluminium besar dan wajan hitam yang mulai mengilap karena sering dipakai.

Ambil Sendiri: Tradisi yang Menyajikan Rasa
Tidak ada pelayan yang mendatangi. Di sini, konsepnya ambil sendiri. Sebuah meja panjang menyajikan aneka lauk rumahan yang membuat perut tiba-tiba merasa lapar.

Di antaranya:
Geblek — ikon Kulon Progo, berserat singkong dengan tekstur kenyal, gurih, dan sangat cocok disantap dengan sambal bawang.
Sayur lombok ijo — pedas segar, melengkapi nasi hangat.
Ayam bacem — manis-gurih, empuk, aromanya khas.
Tempe garit goreng — tipis, renyah, nikmat dipadukan sambal.
Pecel ndeso — dengan kuah wijen hitam yang hanya ada di daerah ini.
Teh poci gula batu — yang langsung membawa ingatan ke masa kecil.

Makan siang kami menjadi ritual yang pelan dan penuh rasa. Sembari menikmati hidangan, kami duduk di kursi kayu panjang menghadap sawah. Angin datang dan pergi, membawa aroma tanah dan bisik-bisik alam.

Bersepeda dan Membatik: Menoreh yang Mengajak Bergerak
Setelah makan, kami berjalan ke area samping. Di sana tampak penyewaan sepeda. Banyak orang, dari anak-anak hingga dewasa, mencoba menyusuri jalur di pinggir sawah. Pemandangan bukit Menoreh menjadi latar megah yang tidak bisa diabaikan, hijau, tenang, dan menunduk seolah memayungi tempat ini.

Anak-anak begitu antusias, tapi satu kegiatan lain menarik perhatian putri saya: membatik.
Ia duduk di bangku kayu kecil, memegang canting dengan tangan yang agak gemetar, sementara instruktur membimbing pelan.

“Pelan-pelan saja… arahnya ikuti garis,” kata instruktur.

Perlahan pola batik kecil mulai terbentuk. Saya melihatnya serius, matanya fokus, wajahnya sesekali tersenyum bangga. Membatik membuat kami sadar bahwa tradisi bukan hanya tentang motif, tetapi tentang kesabaran. Mungkin itu sebabnya batik begitu berharga, setiap goresannya adalah cerita.

Keunikan & Tips Saat Berkunjung ke Geblek Pari

Keunikan
• Nuansa pedesaan Kulon Progo yang sangat natural.
• Konsep makan ambil sendiri dengan menu ndeso autentik.
• Pemandangan sawah dan bukit Menoreh sebagai latar alami.
• Aktivitas wisata: membatik, bersepeda, spot foto pedesaan.
• Bangunan tradisional yang menghadirkan suasana Jawa tempo dulu.

Hal yang Perlu Diperhatikan
• Datang lebih pagi agar lebih lega dan tidak antre.
• Pilih alas kaki nyaman, beberapa area berupa tanah.
• Parkiran bisa penuh saat akhir pekan dan jam makan siang.
• Bawa topi/payung jika ingin aktivitas outdoor.
• Sebaiknya siapkan uang tunai untuk jaga-jaga.
• Jika membawa anak, cobalah membatik, pengalaman yang sangat menyenangkan.

Geblek Pari mengingatkan saya bahwa kebahagiaan sering lahir dari hal-hal sederhana, angin yang tenang, tawa keluarga, dan jeda sejenak dari hiruk pikuk hidup. Kadang, kita hanya perlu berhenti sebentar untuk kembali merasa utuh.

Salam seruput kopi panas.