Libur Nataru kali ini saya isi dengan perjalanan mudik ke Priangan Timur bersama keluarga. Rutenya klasik, jalur utama Bandung–Tasikmalaya hingga Ciamis. Jalur yang sudah puluhan kali saya lintasi, tapi entah mengapa selalu menyimpan cerita baru setiap kali dilalui.
Saya berangkat dari Subang, mampir dulu Purwakarta lanjut masuk Tol Cipularang. Pagi itu Cipularang terasa ramah. Lancar, tertib, nyaris tanpa drama. Tidak ada antrean panjang, tidak ada perlambatan yang bikin emosi naik. Mobil mengalir stabil, seolah jalan memberi izin penuh untuk melaju. Mungkin karena sudah ada pembatasan kendaraan berat selama libur Nataru.
Dari Subang menuju Ciamis, total waktu tempuh sekitar lima jam. Bukan karena jaraknya, tapi karena kami memilih perjalanan yang santai. Banyak berhenti. Ada jeda ngemil, ada waktu mengulur kaki, ada kopi panas yang diminum perlahan berteman tahu sumedang. Mudik kali ini bukan soal cepat sampai, tapi menikmati perjalanan.
Memasuki jalur Bandung–Tasikmalaya, suasana khas Priangan mulai terasa. Udara lebih sejuk, kontur jalan berkelok, dan ritme berkendara otomatis melambat. Saya selalu suka bagian ini. Ada rasa pulang, meski tujuan belum tentu kampung halaman sendiri. Ciamis kami capai menjelang siang, tanpa rasa lelah berlebihan.
Perjalanan pulang saya buat berbeda. Dari Bandung, saya memilih masuk Tol Cisumdawu, lalu lanjut ke Cipali. Dan di sinilah rasa perjalanan berubah total.
Cisumdawu memberi pengalaman yang tidak saya temukan di Cipularang. Jalan tol ini terasa lengang, nyaris sunyi untuk ukuran libur Nataru. Mobil-mobil melaju dengan jarak aman, tidak saling berhimpitan.
Di kiri dan kanan, pemandangan terbuka lebar. Sawah-sawah membentang, hijau dan rapi, berpadu dengan siluet gunung yang berdiri tenang di kejauhan. Tidak ada dinding beton panjang yang menutup pandangan seperti di banyak ruas tol lain. Mata dimanjakan, hati ikut tenang.
Bagian yang paling berkesan tentu saat melintasi twin tunnel Cisumdawu. Dua terowongan kembar yang memotong perbukitan, menghadirkan sensasi berbeda. Begitu masuk, cahaya lampu memantul di dinding batu yang kokoh. Ada kesan megah, sekaligus intim.
Dalam hitungan detik, saya seperti dipindahkan dari hamparan alam terbuka ke ruang sunyi yang teratur, lalu kembali keluar dengan panorama yang sama sekali baru. Rasanya seperti membuka halaman lain dalam satu buku perjalanan.
Namun kelengangan ini juga menyimpan pesan tersendiri. Jalan yang terlalu nyaman bisa membuat lengah. Tanpa macet, tanpa tekanan, fokus bisa perlahan turun. Saya beberapa kali mengingatkan diri sendiri: jangan terlena. Kecepatan harus dijaga, jarak aman tetap diperhatikan. Di balik keindahannya, Cisumdawu tetaplah jalan tol yang menuntut kewaspadaan penuh.
Kepadatan mulai terasa ketika memasuki Tol Cipali, terutama di sekitar Kertajati. Arus kendaraan meningkat, ritme melambat. Di titik ini, saya kembali diingatkan bahwa libur panjang selalu punya konsekuensi yang sama: semua orang ingin pulang di waktu yang berdekatan.
Ngomong-ngomong soal Tol Cisumdawu, ada satu hal yang membuat saya tersenyum sendiri sepanjang perjalanan. Jalan ini bukan sekadar infrastruktur, tapi juga cerita tentang keterlibatan anak bangsa.
Dahana, perusahaan tempat saya berkarya, terlibat dalam pembangunan tol ini. Beberapa section pengerjaan Cisumdawu dikerjakan dengan dukungan keahlian Dahana, khususnya pada pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan teknik khusus di area berbukit dan berbatu. Peledakan terkontrol, pengamanan lereng, hingga dukungan teknis lainnya menjadi bagian dari kontribusi itu.
Dan Cisumdawu bukan satu-satunya. Dahana juga ambil bagian dalam pembangunan berbagai jalan tol di tanah air, termasuk di Sumatera untuk jalur strategis yang membuka konektivitas antarwilayah. Setiap kilometer jalan tol yang kini kita nikmati, sejatinya menyimpan kerja senyap banyak tangan dan keahlian. Termasuk di dalamnya, kontribusi Dahana.
Menyusuri Cisumdawu sambil mengingat hal itu membuat perjalanan terasa lebih personal. Ada rasa bangga yang pelan-pelan tumbuh. Bahwa di balik aspal yang mulus dan terowongan yang megah, ada cerita tentang profesionalisme, keselamatan, dan dedikasi jangka panjang.
Pada akhirnya, perjalanan mudik dan balik ini memberi saya satu pelajaran sederhana. Jalan yang lengang bukan selalu berarti aman. Jalan yang indah bukan alasan untuk lengah. Seperti hidup, justru ketika semuanya terasa lancar, fokus dan kewaspadaan harus dijaga lebih kuat.
Catatan Ringkas di Akhir Perjalanan:
• Jarak Cilenyi–Subang via Cipularang lebih panjang dibanding via Cisumdawu. Rute lewat Cisumdawu umumnya lebih cepat karena jarak tol yang lebih pendek dan kondisi jalan sering lebih lancar, terutama di luar puncak arus mudik.
• Ongkos tol via Cipularang dan Cipali relatif lebih mahal dibanding rute Cisumdawu. Meski jalur Cisumdawu lebih pendek jaraknya, tarif totalnya bisa lebih mahal sedikit karena tarif per km di Cisumdawu lebih tinggi dibanding Cipularang (yang sudah lebih lama beroperasi dan tarifnya relatif flat di jarak jauh).
• Waktu tempuh normal Cilenyi – Subang via Cipularang sekitar 2 jam, sementara via Cisumdawu bisa 1,5 jam saja.
• Cisumdawu menawarkan pemandangan sawah, pegunungan, dan pengalaman unik twin tunnel.
• Berkendara di Cisumdawu perlu kewaspadaan ekstra karena jalan lengang bisa membuat lengah.
• Pastikan kondisi kendaraan prima, jaga kecepatan, dan istirahat cukup meski jalan terasa nyaman.
Pada akhirnya, perjalanan mudik ini saya nikmati seperti seruput kopi panas: pelan, hangat, dan penuh jeda. Cisumdawu yang lengang, Cipularang yang ramai, terowongan kembar, hingga aspal panjang yang kami lintasi, semuanya mengingatkan saya bahwa perjalanan bukan cuma soal cepat sampai, tapi soal menjaga fokus dan rasa syukur.
Di balik jalan yang mulus ada kerja panjang anak bangsa, di balik kemudi ada keluarga yang harus dijaga, dan di balik setiap kilometer ada pelajaran kecil tentang hidup, yaitu jangan terburu-buru, jangan lengah, nikmati prosesnya.
Salam Seruput Kopi Panas.