Malam semakin larut menyelimuti Kota Nanas. Hujan pun mulai mereda. Di dalam Masjid Agung Subang, jamaah I’tikaf Kanbera tampak khusyuk. Udara malam ke-23 Ramadhan ini terasa begitu tenang dan syahdu.
Namun malam ini, ada yang mengusik ketenangan batin kami. Di saf depan, Ustadz Heri Efendi memaparkan sebuah materi yang perlahan menyentak kesadaran. Beliau tidak sedang membedah rutinitas fiqih i’tikaf, melainkan mengajak hati kami “melakukan perjalanan” ke tanah para Nabi yang tengah terluka.
Layar proyektor menampilkan sebuah hadits shahih dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu. Ustadz Heri menjelaskan dengan tenang tentang syari’at syaddur-rihal, sebuah anjuran bersengaja melakukan perjalanan jauh untuk ibadah, yang hanya dikhususkan untuk tiga tempat: Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjid Al-Aqsha.
”Kita mungkin sudah berencana dan menabung bertahun-tahun untuk bisa sujud di Makkah dan Madinah,” tutur beliau. Tapi bagaimana dengan Al-Aqsha? Kiblat pertama umat Islam itu seolah berjarak ribuan tahun cahaya, meski berada di bumi yang sama.
Mengapa kita seakan tak bisa menyentuhnya? Jawabannya terpampang menohok di slide berikutnya. Ustadz Heri menjabarkan peta realitas yang mengiris hati. Al-Aqsha sulit diziarahi karena ia sedang dikepung rapat oleh tembok rasial dan blokade. Saudara-saudara kita di sana berstatus tahanan di tanah kelahirannya sendiri. Hak-hak mereka dirampas, digusur oleh perluasan pemukiman, diiringi penodaan tempat suci yang terjadi berulang kali tanpa rasa sungkan.
Suasana masjid terasa semakin berat saat deretan angka kehancuran Gaza ditampilkan. Ustadz Heri menyampaikannya bukan untuk memprovokasi, melainkan sebagai tamparan empati bagi kita yang duduk nyaman di atas karpet empuk ini. Lebih dari 72.000 jiwa telah melayang. 172.000 saudara kita terluka secara fisik maupun batin.
Di saat kita menyantap sahur dengan lauk pauk yang hangat di Subang, lebih dari 2 juta orang di Gaza harus meregang nyawa menjadi pengungsi di bawah tenda tipis, di tengah kota yang 80 persennya telah luluh lantak menjadi puing. Bahkan, sekadar untuk membangun kembali (rebuilding) Gaza kelak, diprediksi menelan biaya tak kurang dari 70 miliar USD. Sebuah derita kemanusiaan yang luar biasa panjang dan melelahkan.
Di titik ini, Ustadz Heri merangkum kontradiksi tersebut dengan sebuah renungan yang membekas kuat. Jika saat ini jasad kita terhalang menunaikan syaddur-rihal ke Al-Aqsha karena belenggu penjajahan, lalu apa bukti cinta dan keberpihakan kita?
Sebelum kajian ditutup untuk melanjutkan ibadah mandiri, beliau menitipkan tiga amalan yang bisa kita lakukan dari jauh:
1. Biarkan Doa yang Melakukan Perjalanan: Jangan pelit mendoakan. Saat sujud panjang di qiyamul lail, sebut nama saudara-saudara kita di Palestina. Hadirkan hati, memelaslah pada Allah agar mengaruniakan kemerdekaan bagi mereka. Biarkan doa kita yang menembus langit Gaza.
2. Rawat Ingatan dan Edukasi: Jangan biarkan isu ini redup begitu saja. Kenalkan sejarah dan kedudukan mulia Al-Aqsha kepada keluarga di rumah.
3. Sisihkan Harta Terbaik: Membangun kembali apa yang hancur di sana butuh waktu yang lama. Jangan lelah untuk terus menyisihkan rezeki melalui jalur yang terpercaya, sebagai bukti nyata bahwa ukhuwah kita bukan sekadar di lisan.
Malam ke-23 perlahan bergerak mendekati sepertiga akhir. Kajian usai, namun gema pesannya masih tertinggal di dada.