Ada malam-malam tertentu yang rasanya begitu panjang. Kita berbaring, mata menatap langit-langit kamar, sementara pikiran berputar tanpa henti memikirkan satu masalah yang seolah tidak ada jalan keluarnya. Mungkin soal utang yang jatuh tempo padahal penghasilan belum juga masuk. Mungkin soal pekerjaan yang tiba-tiba hilang. Mungkin soal hubungan yang retak, atau kesehatan yang tak kunjung membaik. Kita merasa sudah mencoba segala cara, tapi jalan di depan tetap terasa buntu, gelap, tanpa celah.

Kalau hari ini kita sedang berada di titik itu, izinkan kita berhenti sebentar, menarik napas, dan mengingat kembali satu ayat yang barangkali sudah sering kita dengar, tapi jarang benar-benar kita resapi maknanya.

“Fa inna ma’al ‘usri yusra, inna ma’al ‘usri yusra.” Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Begitu bunyi ayat kelima dan keenam surat Al-Insyirah, diulang dua kali, seolah Allah tahu betul kita butuh diyakinkan lebih dari sekali.

Menariknya, para ulama tafsir menjelaskan sesuatu yang indah dari susunan ayat ini. Dalam bahasa Arab, kata “kesulitan” pada kedua ayat itu memakai bentuk ma’rifah, kata yang sudah dikenal, menunjuk pada kesulitan yang sama, satu kesulitan yang sedang kita hadapi. Sementara kata “kemudahan” memakai bentuk nakirah, kata yang belum dikenal, yang dalam kaidah bahasa Arab menunjukkan sesuatu yang tidak terbatas jumlahnya. Dari sinilah muncul penjelasan yang begitu menenangkan, satu kesulitan tidak akan pernah mampu mengalahkan dua kemudahan. Bukan kebetulan Allah menyebutnya dua kali.

Surat ini sendiri turun di masa-masa paling berat dalam perjalanan dakwah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam di Mekkah. Beliau dihina, keluarganya dan para pengikutnya direndahkan karena kemiskinan, dakwahnya ditolak mentah-mentah oleh orang-orang yang paling dekat dengan kehidupannya sendiri. Di titik itulah surat Al-Insyirah turun, bukan menjanjikan bahwa kesulitan akan hilang seketika, tapi menegaskan bahwa di dalam kesulitan itu sendiri, kemudahan sudah bersembunyi, menunggu waktunya untuk terlihat.

Kita jadi teringat seorang kawan, pemilik kedai kopi kecil di pinggiran kota, yang harus menutup usahanya di masa pandemi beberapa tahun silam. Semua tabungan habis, mesin espresso satu-satunya bahkan sempat digadaikan untuk menyambung hidup keluarganya. Ada masa ketika ia benar-benar merasa tidak ada jalan lagi, sampai ia hampir memutuskan untuk berhenti total dari dunia kopi yang selama ini jadi hidupnya.

Tapi entah dari mana datangnya kekuatan itu, ia memilih bertahan sedikit lebih lama, mulai berjualan dari rumah dengan modal seadanya, melayani pesanan lewat pesan singkat kepada tetangga-tetangga terdekat. Dua tahun kemudian, kedai itu bukan hanya buka kembali, tapi berkembang menjadi tiga cabang, dengan pelanggan yang justru mengenalnya dari kegigihan saat masa tersulitnya. Ia sering bilang, titik paling gelap dalam hidupnya ternyata adalah pintu menuju sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Begitulah cara Allah bekerja, sering kali tidak terlihat sampai kita sudah melewatinya. Karena itu, Islam dengan tegas melarang kita berputus asa. Dalam surat Az-Zumar, Allah bahkan menyapa dengan lembut, “Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.” Ayat ini seperti sedang menegur kita pelan-pelan, bahwa berputus asa bukan sekadar soal perasaan, tapi soal bagaimana kita memandang siapa Allah sebenarnya.

Ada tiga hal yang barangkali bisa kita jaga ketika kesulitan sedang terasa begitu berat.

Pertama, kita meyakini bahwa kesulitan dan kemudahan itu datang beriringan, bukan bergantian. Ayat ini tidak mengatakan setelah kesulitan baru ada kemudahan, tapi bersama kesulitan itu ada kemudahan. Artinya, kemudahan itu mungkin sudah ada di sekitar kita sekarang, hanya belum kita sadari bentuknya.

Kedua, kita tetap bergerak meski belum melihat jalan keluarnya secara utuh. Nabi Muhammad tidak berhenti berdakwah hanya karena belum tahu kapan penderitaan itu akan berakhir. Begitu pula kita, langkah kecil yang kita ambil hari ini, meski terlihat tidak seberapa, bisa jadi jalan yang sedang Allah siapkan untuk kita.

Ketiga
, kita menjaga husnuzan kepada Allah, bahwa apa pun yang sedang kita alami hari ini tidak pernah lepas dari rencana-Nya yang lebih besar. Berputus asa hanya akan membuat kita berhenti sebelum sempat melihat pintu yang sebenarnya sudah terbuka di depan kita.

Jadi, kalau malam ini kita masih menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang berat, coba ingat lagi ayat itu. Bersama kesulitan ini, ada kemudahan yang sedang menunggu. Bukan satu, tapi dua. Kita hanya perlu bertahan sedikit lebih lama, sampai kita sendiri yang membuktikannya.