Keramaian jalan raya di depan salah satu rumah sakit umum seolah tidak terasa. Keriuhan orang lalu lalang dan bising suara kendaraan pun seolah tak tertangkap indra pendengaran. Semuanya seperti tertutup oleh rasa kegalauan yang menyelimuti hati. Bak awan hitam yang menggelayut menutupi pancaran sinar matahari.

Hingga akhirnya tersadarkan ketika keluar dari pintu anjungan tunai mandiri yang berada di mulut jalan rumah sakit tersebut. Sebuah ambulan bersuara nyaring tergesa-gesa masuk ke dalam kawasan rumah sakit. Seorang ibu paruh baya duduk di depan ambulan, tangannya berpegang pada pegangan pintu di bagian atas kendaraan tersebut. Raut mukanya nampak tak karuan penuh kegelisahan. Mungkin khawatir dengan pasien yang dibawa ambulan tersebut.

Sebelum menarik handle gas motor, tak sengaja pandangan menyapu seberang jalan. Angkot berwarna jingga berhenti menunggu penumpang. Kosong, tak ada satupun penumpang di dalamnya. Sementara Pak Supir duduk di belakang kemudi dengan siku menyandar di pintu, dan tangan memegang kepala dengan rambut yang mulai memutih. Kusut.

Sejenak motor pun tertahan tak jadi melaju. Tetiba kegalauan yang tadi membuncah sirna berganti dengan seulas senyum yang tak jelas antara senang atau sedih. Satu hal yang didapat, perasaan menjadi orang yang lebih beruntung.

Betapa sering kita mengalami kegundahan hati karena merasa banyak masalah dalam hidup ini. Kita pun menjadi salah sangka, seolah-olah masalah kita adalah masalah yang sangat berat sekali dalam hidup ini. Kenyataannya, orang lain mungkin memiliki masalah yang jauh lebih berat ketimbang masalah kita.

Bisa jadi kita memiliki masalah tentang tidak bisa berlibur pada saat musim liburan, atau tidak jadi membeli barang yang kita inginkan. Dan itu adalah termasuk kategori sekunder atau malah tersier. Sementara orang lain, mungkin tidak lebih beruntung karena harus masuk rumah sakit atau mata pencahariannya tidak menentu. Dan ini tentang urusan kehidupan pokok.

Berangkat dari kesadaran untuk tetap bersyukur atas apapun yang menimpa kita, maka tidak ada alasan untuk bersedih hati. Alih-alih bermuram durja, kita lebih baik menjadi semangat kembali, terutama untuk menebar kebaikan kepada orang lain. Tak baik berburuk sangka kepada Sang Maha Pencipta, karena hanya karena kebodohan kita sajalah tidak dapat melihat hikmah di balik setiap peristiwa.

Akhirnya motorpun melaju pelan namun pasti bersama senyum dan harapan. Tak jadi bersedih.